Sandiaga menceritakan kenangan yang paling membuatnya terkesan ketika pada tahun 1992, yaitu ketika Bank Summa mengalami kebangkrutan, William hadir sebagai sosok pahlawan dengan merelakan sebagian saham Astra dijual untuk menyelamatkan para deposan kecil bank itu.
"Saya teringat ketika tahun 1992, dia satu-satunya pengusaha yang menjual saham perusahaannya (Astra) untuk menutupi utang-utangnya yang tidak dimilikinya. Belum pernah ada pengusaha yang seperti itu. Hal itu karena dia ingin menolong deposan-deposan kecil," kenangnya dengan mata berkaca-kaca ketika ditemui di rumah duka William di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Sabtu (3/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau merupakan sosok inspiratif. Perusahaan itu bukan hanya dilihat dari kekayaannya tapi seberapa besar menfaatnya bagi sekelilingnya. Makanya visi Astra menjadi aset bangsa," ujarnya.
Sandi mengungkapkan tidak sedikit profesional lahir di bawah asuhan tangan dingin William dalam perusahaan Astra. Akibatnya, walaupun Astra telah ditinggalnya selama 18 tahun lalu, perusahaan itu tetap dikelola dengan baik.
"Berapa profesional lahir dari bidikan Astra dan menjadi profesional di luar Astra," jelasnya.
Sandi mengharapkan para pengusaha muda dapat meneladani William karena dia merupakan sosok yang ulet, jujur, dan peka terhadap komunitas.
"Pengusaha muda dapat menarik benang merah inspirasi bahwa bisnis bukan mencari keuntungan tapi visi kepada masyarakat, perjuangan dia membangun dunia usaha menjadi inspirasi bagi pengusaha muda," harapnya.
(nia/dnl)










































