Demikian diungkapkan oleh Ketua DPR-RI Marzuki Alie dalam pembukaan sidang paripurna DPR-RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/4/2010).
"Dewan menaruh perhatian atas terjadinya krisis gas, pasokan gas untuk Perusahaan Gas Negara (PGN) defisit hingga 300 juta standar kaki kubik. Hal tersebut diakibatkan adanya suplai gas yang besar kepada industri yang bergerak di bidang ekspor, padahal seharusnya pemerintah mengutamakan suplai gas untuk kebutuhan dalam negeri," ujar Marzuki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PLN terpaksa mengganti gas dengan solar industri jenis high speed diesel yang mengakibatkan naiknya biaya operasional pembangkit. Jika hal ini terus berlangsung maka listrik akan mengalami byar pet terus-terusan dan ongkos produksi listrik juga bertambah," jelasnya.
Marzuki menjelaskan, untuk industri pupuk misalnya dibutuhkan gas sebanyak 1.436 MMSCFD untuk jangka waktu 4-15 tahun ke depan bagi kurang lebih 11 unit pabrik pupuk urea pada beberapa industri pupuk.
"Maka kelangkaan gas untuk industri atau pabrik berdampak pada penurunan produksi pupuk dan suplai pupuk ke pasar," terangnya.
Maka dari itu, lanjut Marzuki, DPR meminta perhatian pada PT Pertamina agar lebih berperan dalam meningkatkan kapasitas nasional di industri Migas.
"Dengan memprioritaskan penggunaan barang modal dan jasa produksi dalam negeri dan melakukan percepatan di dalam proses alih teknologi sesuai dengan peraturan yang berlaku," tutup Marzuki.
(dru/dnl)











































