Samsung Minati Terminal Penampung LNG Indonesia

Samsung Minati Terminal Penampung LNG Indonesia

- detikFinance
Rabu, 07 Apr 2010 08:26 WIB
Samsung Minati Terminal Penampung LNG Indonesia
Jakarta - Perusahaan asal Korea Selatan, Samsung menyatakan minatnya untuk ikut serta dalam proyek LNG receiving terminal baik dalam ukuran besar maupun kecil di Indonesia.

Minat tersebut disampaikan delegasi Korea pada acara "The 3rd Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF)" yang berlangsung di Korea, 25-26 Maret lalu.

"Mereka punya teknologinya dan akan datang ke Indonesia untuk presentasi," kata Direktur Jenderal Migas, Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo dalam situs Ditjen Migas yang dikutip detikFinance, Rabu (7/4/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Evita, keinginan Samsung untuk berinvestasi dalam proyek LNG receiving terminal tersebut sejalan dengan rencana pemerintah untuk membangun lebih banyak LNG receiving terminal sebagai langkah untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gas di tanah air.

Rencananya, pemerintah memang akan membangun LNG receiving terminal di berbagai wilayah seperti di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali.

Nantinya, lanjut dia, perusahaan tersebut bisa ikut serta dalam tender Engineering, Procurement, Contruction (EPC) pembangunan proyek LNG receiving terminal tersebut maupun ikut dalam perusahaan patungan (Joint Venture Company) dengan perusahaan nasional seperti PT Pertamina (Persero) dalam proyek tersebut.

Selain Samsung, imbuh Evita, beberapa perusahaan Korsel lainnya juga telah menyampaikan keinginannya untuk bekerja sama dengan Indonesia di sektor energi. Ia mencontohkan Korea National Oil Company (KNOC)  yang berminat mengajukan joint study di lapangan-lapangan migas Indonesia.

Perusahaan Korea Selatan lainnya, Kodeco juga telah menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan BUMN Indonesia yaitu PT Pertamina, sesuai dengan kondisi yang diinginkan perusahaan pelat merah itu. Saat ini, Kodeco dan Pertamina bekerja sama mengelola Blok Madura dan Poleng.

Pemerintah Korea Selatan juga mengajak Indonesia untuk memberdayakan penggunaan gas yaitu CNG untuk transportasi. Ajakan itu disambut baik Indonesia. Namun Evita mengingatkan, hal itu harus dilakukan secara hati-hati, mengingat ide  tersebut hingga saat ini masih sulit dilaksanakan.

"Terus terang saya bilang, kita harus hati-hati karena sudah banyak effort ke arah itu, tapi masih mentok sana-sini. Kita harus lebih serius," kata Evita.

Penggunaan gas untuk transportasi, menurut Evita, sebaiknya tidak hanya menggunakan CNG saja, tetapi harus juga dibuka kemungkinan menggunakan LPG.

Kerja sama bilateral Indonesia-Korea Selatan dimulai pada tahun 1979. Pertemuan tersebut membahas kebijakan-kebijakan di bidang energi diantara kedua negara, perdagangan LNG, minyak mentah, hasil kilang, batu bara dan kerja sama dalam pengembangan minyak, gas bumi, batubara dan tenaga listrik.

(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads