"Apa yang pemerintah untuk komit melakukan adalah pembicaraan ulang atau pembicaraan khusus. Itu sudah berhasil kita lakukan dan sudah ada hasilnya. Kita sampaikan pada mingu lalu," katanya di gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Senin (12/4/2010).
Ia menegaskan dalam kesepakatan sebelumnya dengan pihak China, kesepakatan yang dilakukan bukan hanya pada sekor tarif yang dipermasalahkan tapi lebih luas dari pada 228 pos tarif, termasuk sekor-sektor yang mengalami masalah seperti sekor industri baja, tekstil dan produk tekstil (TPT) dan sepatu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ini Ketujuh kesepakatan yang telah dihasilkan antara Indonesia dengan China terkait renegosiasi ACFTA:
1. Kedua pemerintah sepakat bahwa Deklarasi Bersama tentang Kemitraan Strategis yang ditandatangani oleh kedua pemimpin pada tahun 2005 merupakan landasan bagi penguatan hubungan perdagangan dan kerjasama ekonomi kedua negara ke depan. Untuk itu, kedua pihak sepakat untuk mengembangkan langkah-langkah strategis
bagi kepentingan jangka panjang kedua bangsa;
2. Untuk mencapai hal itu, kedua pihak sepakat untuk melaksanakan AC-FTA yang diimplementasikan secara menyeluruh dan saling menguntungkan;
3. Kedua pihak akan mengupayakan pertumbuhan perdagangan yang tinggi dan berkelanjutan, sehingga apabila terjadi ketidakseimbangan neraca perdagangan, maka pihak yang surplus wajib melaksanakan langkah-langkah untuk meningkatkan impor dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada mitranya;
4. Untuk mengimplementasikan hal tersebut, akan dibentuk kelompok kerja selambat-lambatnya dalam waktu 2 bulan yang akan melakukan analisis data dan informasi perdagangan dua arah dan merekomendasikan langkah-langkah yang diperlukan, dengan prioritas diberikan kepada sektor-sektor yang akan ditentukan kemudian, utamanya besi dan baja, tekstil dan produk tekstil, serta sepatu (catatan: tariff lines dari besi dan baja, tekstil dan produk tekstil serta sepatu mencakup hampir 80% dari 228 tariff lines yang menjadi keprihatinan sektor-sektor di Indonesia);
5. Selain menyepakati aspek perdagangan, kedua pihak juga sepakat mengupayakan agar sektor-sektor yang diidentifikasikan itu dan sektor-sektor lainnya yang merupakan prioritas kedua pihak untuk memperoleh dukungan pendanaan kredit dan pinjaman lunak untuk revitalisasi, investasi dan pengembangan lebih lanjut;
6. Kedua pihak juga menyepakati untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia melalui berbagai skema yang akan dirumuskan dalam perjanjian terpisah. RRT juga akan mendukung program Indonesia meningkatkan konektivitas antara daerah-daerah dan pulau-pulau di Indonesia
7. Kedua pihak sepakat mendorong kerjasama dan dialog di antara asosiasi-asosiasi bisnis di sektor-sektor prioritas kedua negara. Mengenai perdagangan kedua negara, Mari mengakui sampai saat ini Indonesia masih
mengalami defisit perdagangan dengan China. Ia mencontohkan pada kinerja ekspor impor bulan Januari-Februari 2010, ekspor Indonesia ke China naik 38%, sedangkan peningkatan impor Indonesoa mencapai 50%, dari periode ini Indonesia masih defisit.
"Defisitnya berkurang, sangat berkurang," imbuh Mari.
Ia juga mengatakan secara dunia,saat ini China justru mengalami defisit perdagangan dengan beberapa negara lain. Hal ini karena kebijakan China yang meningkatkan permintaan dalam negerinya termasuk karena program stimulus.
(hen/qom)










































