Penguatan Rupiah Bikin Eksportir Menjerit

Penguatan Rupiah Bikin Eksportir Menjerit

- detikFinance
Selasa, 13 Apr 2010 15:14 WIB
Jakarta - Penguatan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp 9.000/US$ membuat para eksportir menjerit karena daya saing barang-barang ekspor mereka akan semakin menurun.

Demikian disampaikan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam seminar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (13/4/2010).

"Pengusaha yang berbasisi ekspor akan sulit untuk memiliki daya saing jika rupiah terus menguat. Mungkin hari ini sudah tembus Rp 9.000," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mari juga mengatakan dirinya menerima kritikan dari Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo). Asosiasi ini mengeluhkan pemerintah gagal menjaga stabilitas rupiah di level tertentu. Akibatnya, pengusaha yang melakukan lintas perdagangan luar negeri menjadi korban karena terjadi perubahan marjin yang merugikan.

"Kami inginkan kursnya stabil agar ekspor impor juga stabil. Pemerintah, di luar pergerakan isu kurs, harus meningkatkan daya saing dengan benar. Selain itu kita juga menghindari ekonomi biaya tinggi," ujarnya.

Tren pergerakan penguatan indeks dan rupiah terhadap dollar AS terus terjadi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan sebesar 13,69% sejak awal tahun hingga kemarin, dan hampir tembus di level 3.000. Nilai tukar rupiah telah berada di level 9.020 per dolar AS.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan keberatan beberapa kalangan atas penguatan IHSG dan rupiah hanyalah segelintir pelaku usaha yang ada di Indonesia. Mereka khususnya pengusaha industri manufaktur berbasis ekspor. Namun pelaku usaha ini jangan hanya minta tolong untuk menyelamatkan industri mereka.

"Kalau rupiah dan indeks menguat lebih ke industri manufaktur ekspor, yang lebih banyak (keberatan)," papar Mirza.

Menurutnya, industri manufaktur Indonesia memang sangat berpengaruh jika IHSG dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus terjadi, khususnya industri tekstil. Elektronik dan furnitur. Pasalnya industri ini banyak disesaki pesaing dari negara lain seperti Thailand, China, dan Mexico.

(wep/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads