Hal itu disampaikan Sekretaris Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) Kemlu, Elias Ginting, dalam sidang tahunan Crans Montana Forum ke-21 di Brussel (10/4/2010).
Crans Montana Forum, seperti disampaikkan Koordinator Fungsi Pensosbud Diplik KBRI Brussel PLE Priatna kepada detikfinance, adalah organisasi yang berpusat di Monaco, dan secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional untuk membahas berbagai isu penting di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Indonesia, lanjut Ginting, forum ini cukup relevan untuk mengembangkan dialog dan berbagi pengalaman dalam merealisasikan kerjasama pembangunan.
Disampaikan bahwa sejauh ini Indonesia telah memajukan kerjasama antar-negara berkembang dalam berbagai bidang, utamanya pertanian, perkebungan, keuangan-mikro, perikanan dan kehutanan.
"Indonesia berada di garda terdepan dalam kerjasama pembangunan di negara berkembang, dan pengalaman Indonesia layak dijadikan teladan,β tandas Ginting.
Dicontohkan bahwa melalui Non-Aligned Movement Center for South-South Technical Cooperation (Pusat Kerjasama Selatan-Selatan Gerakan Non Blok, red), Indonesia kini tengah mengembangkan Pusat Pelatihan Pertanian di Tanzania, Afrika.
Pada kenyataannya, negara-negara berkembang sering menghadapi tantangan, khususnya di bidang finansial, untuk mengembangkan kerjasama selatan-selatan. Oleh sebab itu Indonesia mengajak negara-negara maju untuk turut berperan sebagai katalisator bagi penguatan kerjasama antar-negara berkembang.
Digarisbawahi oleh Elias Ginting bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia dan teknologi kompatibel dengan negara berkembang lainnya, yang merupakan potensi yang harus dikembangkan.
"Kompatibilitas ini merupakan hal penting, utamanya untuk melengkapi ketidaksesuaian teknologi antara negara maju dan negara berkembang," demikian Ginting.
Uni Eropa
Sementara itu, Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (UE), Nadjib Riphat Kesoema menambahkan bahwa selama ini UE, melalui berbagai skema bantuannya, memiliki perhatian tinggi kepada pembangunan dan peningkatan taraf hidup di berbagai negara berkembang.
"Namun dengan adanya berbagai persyaratan ketat serta standar tinggi, berbagai potensi bantuan UE tersebut belum dapat terserap dengan baik," terang Nadjib.
Dalam kaitan itu, jelas Nadjib, UE di samping memberikan bantuan secara langsung, diharapkan dapat menjadi aktor penting dalam meningkatkan kerjasama antar-negara berkembang, sehingga menjadi kerjasama aplikasi teknologi kompatibel, yang memiliki daya saing tinggi.
Konferensi ini dihadiri oleh beberapa pimpinan negara dan tokoh-tokoh penting lainnya.
(es/es)










































