"Supplier credit, China sudah konfirmasi US$ 300 juta sejak tahun lalu," kata Plt Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat saat acara jumpa pers di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (14/4/2010).
Ia menjelaskan kesepakatan pendanaan ini murni dilakukan secara business to business antara pengusaha Indonesia dengan pengusaha mesin tekstil China. Skim ini juga dilakukan tanpa jaminan dari pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau suku bunga di China 4-5%, kalau kita bisa 12-15%," imbuhnya.
Ade menambahkan pembelian mesin bagi pelaku industri tekstil di tanah air sangat penting karena bagian dari program restrukturisasi mesin pertekstilan atau peremajaan mesin.
Saat ini pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dengan program restrukturisasi telah berhasil merangsang pembelian mesin atau investasi mesin tekstil US$ 500 juta sejak 3 tahun lalu, sedangkan kebutuhan peremajaan mesin tekstil di Indonesia totalnya mencapai US$ 5 miliar.
(hen/dnl)










































