HIPMI: Kasus Priok Bisa Berdampak pada Perekonomian

HIPMI: Kasus Priok Bisa Berdampak pada Perekonomian

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2010 11:05 WIB
Jakarta -

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) berharap kerusuhan di Pelabuhan Internasional Tanjung Priok tidak terulang di pelabuhan internasional lainnya. Pasalnya, kerusuhan serupa dapat menjatuhkan daya saing ekspor dan kenyamanan layanan infrastruktur nasional di mata dunia.

Untuk itu, pemerintah daerah dan PT Pelindo II harus mengedepankan win-win solution dalam menangani potensi sengketa dengan masyarakat di sekitar pelabuhan.

"Kerusuhan ini jangan terulang di pelabuhan lainnya. Sebab bila terulang akan melengkapi segala kelemahan kita terkait daya saing dan bisa berdampak pada perekonomian nasional," kata Ketua Bidang Perdagangan Luar Negeri HIPMI Harry Warganegara dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jumat (16/4/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

HIPMI mengingatkan, Indonesia saat ini sedang mempersiapkan diri menghadapi persaingan perdagangan dalam konteks Asean China Free Trade Agreement (ACFTA). Selain membutuhkan ketersediaan infrastruktur, faktor kenyamanan, keamanan dan keberlanjutan (sustainable) bagi aktivitas bongkar-muat di pelabuhan.

"Yang kita khawatirkan rating pelabuhan kita melorot gara-gara dianggap tidak aman dan sering rusuh. Ini membuat nilai asuransi kapal-kapal yang masuk jadi tinggi dan akan membuat daya saing biaya pelabuhan kita melemah," tambah Harry.

Citra layanan perdagangan internasional Indonesia juga akan dengan mudah tercoreng sebab pelabuhan internasional merupakan simbol kekuatan ekonomi suatu negara.Β 

Harry mengutarakan, keamanan wilayah pelabuhan internasional harus sesuai standar internasional dan menjadi restricted area. Persoalannya saat ini, Makam Mbah Priok berada di wilayah sekitar pelabuhan Tanjung Priok.

Makam Mbah Priok ini sering dikunjungi pesiarah bahkan dianggap keramat oleh sebagian warga.

"Win-win solution-nya adalah makam Mbah Priok dijadikan situs sejarah dan obyek wisata ziarah. Setiap warga atau pengunjung harus memakai tanda pengenal dan didata sesuai prosedur standar keamanan suatu kawasan," tambah dia.

Agar warga senang, seharusnya makam Mbah Priok dipugar dan direnovasi. Namun di sisi lain, wilayah itu harus tetap menjadi restricted area. Selain itu, Pelindo II diharapkan bisa merangkul tokoh agama dan masyarakat sekitar pelabuhan sebelum memutuskan sesuatu terkait wilayah kekuasaan pelabuhan.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads