“Banyak hal yang harus diselesaikan, mereka harus mencari dana,” kata Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Agro Industri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan Agus Pakpahan, Minggu sore, di Senayan, Jakarta (18/4/2010).
Agus menegaskan proyek patungan pabrik pupuk ini merupakan proyek persahabatan dua negara antara Iran-Indonesia. Untuk itu ia mendesak kepada direksi PT Pusri untuk segera menyelesaikan proyek ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan sampai sejauh ini pemerintah Indonesia belum berencana membatalkan proyek ini. Mengingat dari hasil feasibility study (fs) justru menguntungkan dan peluang bagi Indonesia.
”Nggak-nggak kalau saya pikir ini kesempatan peluang bisnis buat kita, kita minta pada direksi untuk memanfaatkan peluang ini,” serunya.
Sebelumnya pihak PT Pupuk Sriwidjaja (holding) memperkirakan rencana pembangunan pabrik pupuk di Iran akan dimulai dilakukan dengan peletakan batu pertama (ground breaking) pada awal tahun 2010 ini. Proyek senilai US$ 450 juta ini diantaranya akan melibatkan dana perbankan di Iran dan lembaga keuangan lainnya.
Pabrik urea dan amonia yang akan dibangun di atas lahan 4 hektar di kawasan Parseez, Bandar Assaluyeh, Iran Selatan ini akan memproduksi 2.500 ton pupuk per hari.
(dro/dro)











































