Menurut DirekturΒ Bisnis dan Manajemen Risiko PLN, Murtaqi Syamsuddin, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh enam perguruan tinggi yaitu UI, ITB, UGM, ITS, UNDIP, dan UNUD menunjukkan bahwa kenaikan TDL tidak akan menurunkan daya saing seluruh industri di tanah air.
"Dari keempat industri yang dianalisis, industri semen dan tekstil yang daya saingnya menurun signifikan akibat kenaikan TDL,"Β ungkap Murtaqi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil survey itu menyebutkan rata-rata pelanggan 450 VA berpenghasilan Rp 741.569 per bulan dengan pengeluaran Rp 699.517 per bulan, rata-rata mengkonsumsi listrik sebesar 90 kWh per bulan. Konsumen pada golongan ini memiliki kemampuan bayar Rp 562 per kwh per bulan, sementara yang dibayarkan saat ini Rp 414 per kwh per bulan.
Sedangkan pelanggan 900 VA, berpenghasilan Rp 1.440.828 per bulan, dengan pengeluaran Rp 1.357.859 per bulan, rata-rata mengkonsumsi listrik sekitar 148 kWh per bulan. Kosumen golongan ini memiliki kemampuan bayar Rp 600 per kwh per bulan dan yang dibayar saat ini sebesar Rp 603 per kwh per bulan.
Berdasarkan hasil konsorsium tersebut, pengaruh kenaikan TDL terhadap inflasi akan terjadi selama tiga bulan pertama setelah kenaikan TDL diberlakukan. Dampak kenaikan TDL terbesar akan terjadi pada bulan pertama kenaikan TDL tersebut. Dengan kenaikan TDL sebesar 15% meningkatkan inflasi 0,308%.
"Bobot TDL dalam perhitungan inflasi sebesar 2,6% berdasarkan data BPS tahun 2003. Jadi kontribusi TDL dalam menyumbang inflasi sangat kecil," ujarnya.
Anggota komisi XI Satya W Yudha Fraksi Golkar menilai kajian ini perlu dipertanyakan lebih lanjut mengenai dampak-dampak jika pemerintah menaikkan atau tidak menaikkan TDL.
"Harusnya ada juga penjelasan kalau pemerintah menaikkan atau tidak," tukas Satya. (nia/epi)











































