Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Pengusaha Handicraft Indonesia (Asephi) Rudi Lengkong mengatakan, hal yang menarik dalam setiap gelaran Inacraft adalah jumlah peminat peserta Inacraft asing yang datang yang umumnya cukup banyak dari pembeli Malaysia.
Hal ini menurutnya suatu sinyal positif terhadap perkembangan produk kerajinan Indonesia dalam penetrasi ke pasar negara-negara tetangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya adanya tuduhan miring terhadap para pembeli dari Malaysia tidak beralasan, termasuk adanya indikasi pembeli Malaysia yang hanya sebagai broker alias barang yang dibeli akan dijual/diekspor kembali negara lain. Rudi mengungkapkan sebagai negara serumpun potensi pasar untuk produk kerajinan Indonesia ke Malaysia justru cukup besar.
"Diekspor lagi atau tidak itu tidak jadi masalah yang penting produk kita dapat terjual banyak," ucapnya.
Selain itu, negara-negara yang menjadi langganan menghadiri Inacraft antara lain buyer dari Singapura, Brunei, Jepang, Thailand, Australia, Uni Emirat Arab, dan lain-lain. Pada tahun 2010 ini kehadiran buyer asing mencapai 1.200 orang atau meningkat dari tahun lalu yang hanya 994 buyer dari 45 negara.
Mengenai Inacraft tahun 2010 ini setidaknya terdapat 1.714 perusahaan yang berpartisipasi, dimana sebanyak 64 perusahaan masuk daftar waiting list. Sedangkan pada tahun lalu hanya 1650 perusahaan yang ikut serta.
Pada tahun 2009 lalu penjualan ritel Inacraft mencapai Rp 85,017 miliar dan penjualan dari luar negeri US$ 7,1 juta. Tahun ini ditargetkan transaksi naik sampai 10-15%.
Inacraft 2010 berlangsung sejak tanggal 21-25 April 2010 di JCC Jakarta dengan harga tiket masuk Rp 10.000 per orang. Inacraft kali ini mengambil tema 'From The Smart Village to The Global Market' atau dari desa cerdas menuju pasar global.
(hen/dnl)











































