Menperin-Mendag Duet 'Rangkul' Industri Tekstil

Menperin-Mendag Duet 'Rangkul' Industri Tekstil

- detikFinance
Kamis, 22 Apr 2010 14:33 WIB
Menperin-Mendag Duet Rangkul Industri Tekstil
Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Perindustrian MS Hidayat tak biasanya bersama-sama hadir dalam satu acara-acara pelaku usaha. Kedua menteri ini bahkan kompak mendukung perkembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di tanah air.

Kekompakan dua menteri itu ditunjukkan saat Munas Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di JIExpo, Jakarta, Kamis (22/4/2010).

Dukungan itu diberikan setelah tercapainya kesepakatan joint commission meeting Indonesian (JCM) ke-10 antara Mendag Indonesia dan China di Yogyakarta yang menyepakati 7 masalah termasuk kesepakatan bantuan terhadap sektor yang terkena dampak terburuk ACFTA yaitu tekstil dan produk tekstil (TPT), baja dan alas kaki.
 
Kesepakatan RI-China sempat memunculkan perbedaan persepsi antara kedua menteri tersebut, meski pada akhirnya saat ini terlihat ada kesepahaman. Namun kedua menteri itu kini tampaknya sudah sejalan lagi, bahkan Hidayat menyatakan siap mengimplementasikan kebijakan tersebut.
 
"Perjanjian perdagangan bebas AC-FTA tetap menjadi dasar strategis dimana masing-masing pihak harus penuh mengimplementasikan perjanjian tersebut secara menyeluruh dan saling menguntungkan kedua belah pihak," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat dalam sambutannya di pembukaan Munas API
 
Hidayat mengatakan sebagai kompensasi dari kesepakatan (JCM) RI-China, diantaranya soal kerjasama dibidang tekstil termasuk permesinan dan lain-lain. Ia berharap masalah kesepakatan itu bisa direalisasikan, apalagi pada saat kunjungan Perdana Menteri China Wen Jabao ke Indonesia dalam waktu dekat.
 
"Menyelesaikan perjanjian perluasan dan pendalaman kerjasama bilateral ekonomi dan perdagangan yang akan ditandatangani pada saat kunjungan Perdana Menteri Wen Jabao ke Indonesia dalam waktu dekat ini," katanya.
 
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam kesempatan yang sama mengatakan industri TPT menjadi salah satu penopang devisa Indonesia dengan kinerja ekspor yang cukup tinggi. Pada tahun 2009 kinerja ekspor industri TPT mencapai US$ 9,26 miliar.
 
Selama ini kata Mari, ekspor TPT Indonesia masih didominasi ke wilayah-wilayah utama seperti AS yang menopang hingga 37%, Eropa 19,4%, Jepang 5,1%, dengan pertumbuhan yang relatif tak berubah.
 
Sehingga kata dia, pentingnya perluasan pasar baru bagi ekspor TPT Indonesia. Selain itu kata dia, produk-produk yang memiliki nilai lebih terutama yang ramah lingkungan termasuk proses produksinya, sangat penting untuk menggaet pembeli dari luar seperti sektor TPT.
 
"Saya mendengar dari trading company, para consumer dan buyer menuntut green factory, tidak merusak lingkungan, tidak menghaburkan energi," katanya.
 
Mari menambahkan saat ini tuntutan persaingan global untuk meningkatkan daya saing bukan hanya pada tenaga kerja yang murah saja namun harus ada nilai lebih lainnya yang bisa ditawarkan.
 
"Bukan saja tenaga kerja yang murah, tapi harus naik pangkat terampil dan design," serunya.

(hen/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads