"Kalau kurs kita kuat sekali, barang domestik yang dijual di luar akan semakin mahal. Sementara kita harus masih bersaing dengan negara lain yang kursnya tidak menguat seperti kita," ungkap Sekretaris Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Sekretaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Syahrial Loetan, di kantornya, Jakarta, Senin (26/4/2010).
Menguatnya rupiah, lanjut Syahrial, tidak terlepas dari derasnya arus modal asing yang masuk ke dalam negeri. Para investor yang sebelumnya melirik AS dan Eropa kini lebih memilih pasar di Asia karena lebih menguntungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syahrial menyatakan saat ini Indonesia juga berpotensi mendapat limpahan investasi dari krisis yang melanda Thailand. "Kondisinya sama ketika saat kita rusuh pada 1998 lalu, yang menikmati negara-negara tetangga kita," ujarnya.
Syahrial menilai derasnya uang yang masuk apakah itu dalam bentuk hot money, akan sulit dibatasi karena secara logika uang akan mengalir ke tempat yang lebih aman dan menguntungkan.
"Mereka mencari yang bisa memperoleh keuntungan lebih besar. Money never recognize the boarder, duit tidak mengenal batasan negara," tegasnya.
Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antar bank Jakarta pada Senin (26/4) pagi sempat menembus angka 9.000 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini menguat 19 poin menjadi 8.991-9.000 per dolar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu 9.010-9.025 per dolar AS.
Menguatnya rupiah yang terlalu tajam ini dikhawatirkan dapat mengganggu kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan sehingga menahan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Sebelumnya Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan jika nilai tukar rupiah secara rata-rata sampai dengan akhir tahun berada pada angka Rp 9 ribu per dolar, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan hanya berada pada level 5,5 persen. Karena dengan penguatan rupiah ini angka ekspor kita akan melambat.
Menurut Darmin setelah pihaknya bertanya kepada pada eksportir berapa angka yang cukup pas, maka angka rata-rata Rp 9.200 per dolar AS adalah angka yang bisa diterima.
Walaupun begitu, tambah Darmin, bukan berarti BI akan mematok angka pasti nilai tukar rupiah tersebut. Pihaknya akan hanya mengendalikan supaya jika rupiah menguat tidak terlalu menguat, begitupun jika melemah.
(nia/dnl)











































