Menurut Dahlan, kenaikan TDL memang tidak dapat dihindari karena pemerintah tidak mungkin membiarkan harga listrik paling murah diantara barang-barang lainnya.
Apalagi, dari hasil penelitian menunjukkan pendapatan masyarakat pasti akan naik. Kenaikan tersebut, lanjut Dahlan, tentu saja akan diperebutkan oleh siapapun misalnya sektor telekomunikasi atau industri rokok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Dahlan mengusulkan agar kenaikan TDL sebaiknya tetap dilakukan pada tahun ini, karena masyarakat sendiri sudah mengetahui bahwa pada bulan Juli tahun ini TDL akan naik. Namun, ia berjanji kenaikan TDL tersebut akan diikuti dengan perbaikan layanan dan pasokan listrik ke seluruh pelanggannya di tanah air.
"Lebih baik tahun ini. Toh masyarakat juga sudah tahu, supaya sakitnya sekalian. Kami berjanji akan sembuhkan luka masyarakat dengan meningkatkan pelayanan. Tapi ini terserah karena hak ini ada di pemerintah. PLN inikan seperti film kartun. Artinya kelindes hidup, kejepit juga hidup," ungkap Dahlan.
Namun Dahlan mengingatkan, sebenarnya kenaikan TDL tidak memberikan pengaruh apapun terhadap keuangan PLN dan juga pasokan listrik di tanah air. Menurutnya, jika TDL tidak dinaikkan maka imbasnya yaitu besaran subsidi listrik dalam APBN akan membengkak.
"TDL naik atau tidak naik PLN tidak masalah karena listrik akan terus hidup. Dampaknya kalau TDL tidak naik, paling subsidi listrik di APBN akan naik atau paling tidak jumlah utang PLN ke Pertamina untuk pembelian BBM akan bertambah," kata Dahlan disambut tawa seluruh peserta rapat kerja yang berlangsung alot tersebut.
Pernyataan Dahlan tersebut langsung ditanggapi oleh Direktur Utama PT Pertamina Persero, Karen Agustiawan yang duduk tidak jauh dari Dahlan.
"Saya agak keberatan itu (tambah utang-red) pak Dahlan," ungkap Karen sambil tersenyum.
(epi/qom)










































