"Meskipun CBM yang dihasilkan sangat kecil, kami siap menyerapnya. Karena PLN inikan lapar gas," kata Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (29/4/2010).
Menurut Nur Pamudji, CBM yang dibelinya tersebut akan digunakan sebagai pengganti bahan bakar pembangkit yang sudah ada. Ia mencontohkan, dua pembangkit yang bahan bakarnya bisa digantikan dengan CBM yaitu pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Trisakti yang berada di Banjarmasin, Kalimatan Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di bawah kedua pembangkit itu kan ada CBM-nya. Kalau CBM itu dimanfaatkan maka bisa digunakan untuk bahan bakar kedua pembangkit itu," jelasnya.
Selain digunakan untuk pembangkit listrik yang sudah ada, CBM yang dibelinya tersebut bisa digunakan dengan membangun pembangkit listrik skala kecil yang berbahan bakar CBM. Pembangkit itu dibangun di dekat wilayah yang memiliki kandungan CBM.
"Pembangkit ini bisa dibangun oleh PLN, atau bisa juga dibangun oleh kontraktor listrik swasta (Independen Power Producer/ IPP), dimana PLN akan membeli listrik dari IPP itu," katanya.
Tidak hanya itu, selain membeli CBM, PLN juga siap untuk menyerap gas alam cair (Liquid Natural Gas (LNG) yang dihasilkan dari CBM.
PLN juga mengusulkan untuk dibangun mini LNG receiving terminal dengan yang berada di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara, Maluku, Bali, dan Sulawesi sehingga LNG yang dihasilkan dari CBM bisa dipasok ke daerah-daerah tersebut.
Menurut dia, dengan dibangunnya mini LNG receiving terminal dengan kapasitas 2,5-20 MMSCFD tersebut maka bisa digunakan sebagai bahan bakar pembangkit dengan total kapasitas 80 MW. "Itu aspirasi dari PLN," tandasnya.
(epi/dnl)











































