"Kami targetkan produksi puncak dari empat blok ini tercapai 600 mmscfd 15 tahun setelah produksi awal dimulai pada 2011 mendatang," ujar Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama PHE, Dwi Martono di sela acara IndoCbm, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (29/4/2010).
Dwi menjelaskan, keempat blok yang dikelola perseroan saat ini masih dalam tahap eksplorasi. Untuk tiga tahun pertama tahap eksplorasi, rencananya PHE akan membor 53 sumur eksplorasi dengan nilai investasi US$ 35 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari rencana total 53 sumur tersebut, baru 3 sumur yang sudah kami bor," kata Dwi.
Saat ini, imbuh Dwi, PHE telah berkomitmen dengan pemerintah untuk mempercepat produksi di dua blok CBM miliknya. Kedua blok tersebut yaitu Tanjung Enim dan Sangatta 1.
"Awalnya kita targetkan 2014 atau 2015 baru bisa menerima hasilnya. Tapi ini kami speed up sehingga pada 2011 sudah menghasilkan," ungkapnya.
Dwi menambahkan, potensi cadangan CBM di Indonesi memang sangat besar yaitu sebesar 453 TCF sehingga mampu membantu menutupi kekurangan cadangan gas nasional. Dari total cadangan tersebut, lanjut Dwi, sebagian besar berada di blok migas yang sudah dikelola oleh Pertamina.
Untuk itu, ke depan PHE akan terus mengembangkan bisnis CBM di wilayah kerja yang kebetulan tumpang tindih dengan blok migas Pertamina seperti di blok Sumatera Selatan 1, Sumatera Selatan 3, Jambi dan Suban," tandasnya.
Untuk diketahui, saat ini Pertamina memiliki 4 blok CBM di Indonesia. Keempat blok tersebut saat ini dikelola oleh anak usaha Pertamina yaitu PT Pertamina Hulu Energy (PHE).
Adapun empat blok yang dimaksud yaitu blok CBM di Sangatta, Kalimantan Timur. Di blok yang sudah masuk dalam tahap ekplorasi tersebut, Pertamina memiliki 52% saham, dan sisanya dimiliki 48%.
Sementara di Blok CBM Sangatta 2, Kalimantan Timur, Pertamina memiliki saham sebesar 40% sedangkan Kaltim Prima Coal mendapatkan porsi saham sebesar 60%. Blok ini saat ini juga masih dalam tahap eksplorasi.
Ketiga adalah blok CBM di Tanjung Enim, Sumatera Selatan yang berpartner dengan PT Bukit Asam dan Arrow Energy Holding Pte. Ltd. Di blok ini, Pertamina memiliki saham 55 persen, sedangkan sisanya dimiliki kedua partnernya tersebut.
Terakhir, Blok CBM di Muara Enim ini, Pertamina memiliki 60% dan EP Trisula CBM Energi sebesar 40%.
(epi/dnl)










































