"Saya kira masih bisa ekspor tapi kan harga internasional beras lagi turun, ini yang kita cermati supaya tidak ada selundupan karena harga internasional turun cukup drastis. Pada saat kita panen, ini cukup berat, tapi tetap tidak ada impor," tegas Bayu saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (4/5/2010).
Selain itu, Bayu menyatakan kekahwatirannya terhadap harga Gabah yang di bawah HPP. "Ada di beberapa tempat gabah yang mutunya bagus dan sesuai ketentuan tapi harganya di bawah HPP. Itu yang kita cari solusinya, kita minta Bulog mencari solusi betul-betul lebih aktif," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya memang, kita tidak pernah meminta Bulog menyerap sepenuhnya, Bulog baru serap 70% dari targetnya sendiri. Sisanya sama masyarakatlah. Kita usahakan dengan langkah-langkah peningkatan mutu, baik di kementeria pertanian maupun di Bulog," ujarnya.
Bayu menyatakan, sampai saat ini stok beras masih mencukupi yaitu sebanyak 1,4 juta ton. Jumlah ini bisa memenuhi kebutuhan beras miskin (raskin) selama 6 bulan ke depan. "Sekarang 1,4 juta ton sampai kemarin 3 Mei. Itu kalau 1,4 untuk raskin 6 bulan. Kita minta stok kita tetap berada di kisaran 1,5-1,6 juta tetap konsisten," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bulog Sutarto Alimuso menyatakan, dari 1,4 juta ton stok beras yang tersedia, terdapat pasokan lama sebesar 600.000 ton, sedangkan 800.000 ton merupakan pasokan baru.
"Yang masuk sudah hampir 800 ribu ton. Ini saya dengan Pertani. Pertani mau masuk 100.000 ton. Sisanya, yang 600.000, stok lama," tegasnya.
Untuk realisasi penyaluran raskin, Sutarto menyatakan hampir mendekati 90% pada bulan lalu. "Penyaluran raskin saat ini sudah mendekati target kan setiap bulan ada target, bulan lalu mendekati 90%," ujarnya.
(nia/ang)











































