"Bank Dunia ini didirikan dengan mandat penangulangan kemiskinan, sementara saat ini sekitar 1,5 miliar penduduk di dunia masih belum menikmati listrik. Jadi harusnya hal ini menjadi fokus mereka ," kata Direktur Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa Hotel IBIS, Jakarta, Rabu (5/5/2010).
Di Indonesia, lanjut Fabby, saat ini masih ada 100 juta penduduk yang masih belum bisa mengakses listrik. Melihat kondisi ini, Fabby berharap agar Bank Dunia bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam membantu mengatasi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, hal lain yang disoroti IESR yaitu soal dukungan World Bank terhadap pengurangan emisi karbon di Indonesia. Menurut peneliti IESR Daniel J.King, Bank Dunia tidak konsisten mengenai hal ini. Di satu sisi pada tahun ini pembelian karbon kredit dari tujuh hingga delapan perusahaan senilai US$ 16 miliar pada tahun ini, namun pada saat bersamaan bank dunia mendanai proyek PLTA Upper Cisokan yang justru menjadi sumber emisi.
"Mereka bilang dukung penggunaan clean energy, tapi mereka danai PLTA dengan skala besar karena di negara tropis PLTA ini bisa menghasilkan gas metan yang cukup besar," kata Daniel.
Dukungan bank dunia terhadap penggunaan energi terbarukan juga dinilai masih kurang, karena berdasarkan hasil kajian IERS dana yang dipinjamkan bank dunia untuk proyek energi terbarukan masih sangat kecil jika dibandingkan proyek lainnya.
"Padahal penting bagi Bank Dunia untuk mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Mengingat pengembangan energi terbarukan membutuhkan teknogi yang mahal dan canggih," kata dia.
Fabby menambahkan, hal-hal ini nantinya akan disampaikan IESR dalam pertemuan yang membahas soal masukan dari Indonesia dalam penyusunan strategi Bank Dunia yang baru. Rencananya pertemuan tersebut akan dilaksanakan Kamis besok di Jakarta.
"Strategi baru ini akan disahkan Bank Dunia pada bulan Maret atau April 2011," tandasnya.
(epi/dnl)










































