"Kalau kita menunggu receiving terminal yang mau dibangun, kelihatannya masih makan waktu sekitar 1,5 tahun. Makanya kita berharap agar terminal darurat ini bisa selesai lebih cepat," kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Menurut Mustafa, modifikasi LNG terminal Arun milik ExxonMobil tersebut nantinya akan dikerjakan oleh perusahaan patungan Pertamina dan PGN atau bisa saja dikerjakan oleh Pertamina atau PGN. Saat ini kedua BUMN yang bergerak di sektor Migas tersebut sedang melakukan kajian mengenai modifikasi dari proyek tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mustafa berharap keberadaan terminal penerima Arun ini bisa membantu mengatasi defisit gas yang dialami di Aceh dan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.
"Jadi nanti gas-gas yang dari dalam negeri maupun luar negeri itu bisa ditampung di sana untuk memenuhi kebutuhan domestik," pungkas Mustafa.
(epi/qom)











































