Para pengusaha China mengeluhkan mahalnya tenaga kerja yang akan mengancam daya saing negeri tirai bambu tersebut di sektor produk keramik. Tren perpindahan kerja dan tuntutan gaji yang meningkat mulai semakin nyata di industri keramik China.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi AnekaΒ Keramik Indonesia (Asaki) Ahmad Widjaja dalam acara diskusi keramik, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kondisi tersebut, lanjut dia, dipastikan daya saing industri keramik China akan turun karena biaya produk tenaga kerjanya meningkat. Hal ini lanjut Widjaja, justru akan menguntungkan Indonesia untuk bisa meningkatkan persaingan pasar keramik di dalam maupun luar negeri dengan China.
"Jadinya hal itu bukan menjadi ancaman industri keramik kita," katanya.
Bahkan kata Widjaja, saat ini banyak produsen keramik Eropa seperti dari Italia dan Spanyol mulai menjajakiΒ relokasi pabriknya keluar negeri. Wilayah-wilayah relokasi ASEAN menjadi incaran para produsen keramik Eropa tersebut seperti Vietnam, Indonesia dan Thailand.
"Mereka akan utamakan ASEAN, yang dipantau itu Thailand, Vietnam dan Indonesia. Tapi ThailandΒ politiknya belum stabil, sedangkan kita cukup stabil, sehingga menjadi bonus. Kita sedikit dapat ancaman dari Vietnam," katanya.
Sampai saat ini Indonesia menempati negara produsen keramik terbesar ke-6 setelah China, Italia, Spanyol, Turki dan Brasil. Total perusahaan keramik di Indonesia mencapai 60 perusahaan, dari jumlah itu sebanyak 42 perusahaan merupakan perusahan keramik ubin, 3 perusahan keramik sanitari dan 15 perusahaan keramik tableware.
Produksi keramik ubin (tile) IndonesiaΒ pada 2009 mencapai 277,9 juta m2 atau meningat dibanding 2008 sebesar 274,6 m2. Sedangkan tableware mencapai 211,7 buah meningkat dibanding 2008 sebesar 187,6 buah. Sementara produksi sanitari mencapai 4,2 juta buah meningkat dibanding 2008 sebesar 4,1 juta buah.
Total ekspor ketiga jenis keramik pada 2009 mencapai US$ 193,9 juta atau turun dibanding 2008 sebesar US$ 218,4 juta.
Dampak krisis keuangan global menjadi faktor penyebab utama turunnya ekspor. Namun terkompensasi dengan meningkatnya penjualan di pasar dalam negeri. Impor pada 2009 sebesarΒ US$ 52,2 juta atau turun dibanding 2008 sebesar US$ 70,7 juta.
(hen/qom)











































