BPS: Mundurnya Sri Mulyani Pengaruhi Optimisme Pebisnis

BPS: Mundurnya Sri Mulyani Pengaruhi Optimisme Pebisnis

- detikFinance
Senin, 10 Mei 2010 14:45 WIB
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan mundurnya Sri Mulyani dari posisinya sebagai Menteri Keuangan akan mempengaruhi optimisme bisnis di Indonesia. Namun BPS meyakini dampaknya hanya akan bersifat sementara atau sesaat saja.

"Kalau kita survey sekarang mungkin ada kekhawatiran dari sisi bisnis itu," kata Kepala BPS Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (10/5/2010).

Dikatakan Rusman, hasil survey BPS terhadap ITB waktu itu dilakukan saat belum adanya keputusan mundur Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun Rusman mengakui faktor Sri Mulyani mempengaruhi indeks tendensi bisnis meski hanya sesaat dan tak signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya rontoknya pasar saham dan melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini bukan semata-mata karena mundurnya Sri Mulyani, namun faktor eksternal seperti krisis di Yunani dan pelemahan mata uang negara-negara lain terhadap dollar AS lebih menjadi faktor utama.

"Yang penting pemerintah confindence, karena ini jangka pendek, nanti akan pulih lagi," ucapnya.

Menurutnya sosok menteri keuangan yang baru, akan juga menentukan tingkat kepercayaan bisnis ke depan sehingga peran presiden sangat penting dalam menentukan pengganti Sri Mulyani.

"Jadi lebih kuat ekternalnya, dari masalah Bu Sri Mulyani," jelasnya.

BPS  juga mencatat  indeks tendensi bisnis pada triwulan I-2010 mencapai 103,41 yang menunjukan indeks bisnis pada periode itu secara umum mengalami peningkatan namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2009 sebesar 108,45.

"Karena waktu itu (triwulan IV 2009) kita baru keluar dari krisis, sekarang sudah normal lagi," jelasnya.

Sementara itu BPS memperkirakan Indeks tendensi bisnis pada triwulan II-2010 mencapai 107,62 atau mengalami kenaikan pada triwulan I-2010. Sektor komoditi pertambangan akan mengalami akan mengalami peningkatan bisnis tertinggo  karena masih ditopang oleh perkiraan  harga-harga yang akan naik. Sementara sektor keuangan, persewaan, jasa perusahaan dan sektor-sektor jasa justru sebaliknya.

"Ini sinyal bagus, karena dunia usaha melihat ada ekspektasi yang positif, bahwa triwulan II akan lebih baik," katanya.

Sementara untuk indeks tendensi konsumen, BPS juga mencatat bahwa pada triwulan I-2010, khusus untuk Jabodetabek sebesar 102,58, meski mengalami peningkatan, namun  lebih rendah dari triwulan IV- 2009 yang sebesar 104,76.

"Ini lebih karena kenaikan gaji, konsumen merasa pengaruh inflasi tidak menghantui mereka, karena inflasi kita rendah," jelas Rusman.

Sementara itu perkiraan untuk indeks tendensi konsumen triwulan II diperkirakan naik cukup bagus 106,40. Hal ini karena ada peningakatan pendapatan, juga pembelian barang-barang tahan lama diperkirakan akan menurun.

"Kesimpulannya dari Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen ada optimisme dari dunia usaha dan konsumen, yang melihat prospek triwulan II lebih baik, dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi," katanya.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads