"Misalnya di Pondok Indah, Menteng, terutama apartemen padahal kita sudah coba petugas setempat, tapi dia (petugas setempat) juga ampun-ampun (kesulitan)," kata Rusman saat ditemui dikantornya, Senin (10/5/2010).
Ia mengungkapkan bagi penduduk perkotaan yang bermukim di perkampungan relatif mudah melakukan sensus. Sementara penduduk yang tinggal di perumahan elit dan apartemen jauh lebih susah untuk melakukan sensus karena faktor apriori maupun kesibukan penghuninya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Juga kendala, kalau bicara dari sisi akses, wilayah Indonesia Timur menjadi spesifik, seperti pulau terluar, pegunungan, tapi petugasnya tentunya bangga bisa mensensus di wilayah itu," katanya.
Menurutnya untuk wilayah-wilayah terpencil, tak segan-segan petugasnya harus menyewa pesawat maupun speed boat untuk melakukan tugas pencatatan sensus. Walaupun wilayah-wilayah tersebut hanya berpenduduk sangat sedikit.
Mengenai progres, saat ini pihakanya sudah memasuki tahap kedua atau tahap pendalaman setelah 10 hari pertama sejak 1 Mei 2010. Tahap sebelumnya pihaknya hanya melakukan proses identifikasi dan pendaftaran
"Ini yang sering salah disikapi oleh masyarakat, yang memuculkan kegamangan oleh masyarakat. Padahal untuk tahap pertama, petugas kita hanya mengunjungi untuk identifkasi, bahwa seluruh rumah tangga tidak ada yang lolos. Baru setelah itu ada pendalaman yang mencakup 43 pertanyaan," jelasnya.
Sensus Para Gelandangan 15 Mei
Rusman juga mengungkapkan secara khusus pada tanggal 15 Mei malam, petugas BPS secara serentak diseluruh Indonesia akan melakukan sensus bagi para gelandangan yang berlokasi di terminal, bawah kolong jembatan, stasiun dan lain-lain. Khusus untuk Jakarta, setidainya akan ada 106 titik yang akan dilakukan sensus mulai pukul 00.00 sampai pagi hari.
"Tanggal 15 Mei, kita mau serangan malam, nggak mungkin kita mensensus mereka pada siang hari," katanya.
(hen/qom)











































