Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya menyatakan kebocoran gas elpiji baru marak terjadi di Jakarta setelah program konversi ini berlangsung 2,5 tahun.
Menurut dia, selama jangka waktu tersebut, rata-rata peralatan seperti selang, kompor, dan regulator sudah mulai rusak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masalah kemiskinan, hal lain yang menyebabkan kecelakaan tersebut yaitu lingkungan dapur yang tidak memenuhi standar seperti tidak adanya ventilasi.
"Sehingga alau ada kebocoran maka gas tidak bisa keluar dari ruangan, lalu ada yang menyalakan api maka kebakaran tidak dapat dihindari," ungkapnya.
Salah satu solusi yang diusulkan untuk mengatasi hal ini, yaitu BUMN Migas tersebut membantu masyarakat kurang mampu dalam pergantian peralatan elpiji 3 Kilogram yang sudah rusak tersebut.
"Bisa dengan cara kredit atau dengan cara yang lain. Misalnya, pemerintah menugaskan Pertamina untuk mengganti itu secara rutin dan gratis kepada masyarakat dengan dana yang disiapkan pemerintah. Pertamina siap jika memang ditugaskan," paparnya.
(epi/qom)










































