RI Sulit Swasembada Gula di 2014

RI Sulit Swasembada Gula di 2014

- detikFinance
Rabu, 12 Mei 2010 19:22 WIB
Jakarta - Target Indonesia bisa swasembada gula pada tahun 2014 bakal sulit tercapai. Masalah-masalah mendasar dibidang pergulaan masih belum terselesaikan seperti masalah pembenahan on farm, off farm dan tata niaga gula yang masih semrawut.

Anggota Komisi VI DPR-RI yang berasal dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid mengungkapkan setidaknya ada 3 masalah mendasar yang menyebabkan target swasembada produksi gula nasional bakal sulit tercapai.

Pertama soal tata niaga perdagangan pasar gula, menurutnya dalam mengejar swasembada gula pemerintah harus menerapkan pola bea masuk gula yang progresif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada saat harga gula  dunia saat ini yang sedang rendah (mendekati US$ 400 per ton) bea masuk  gula putih hanya dikenakan Rp 790 per kg, padahal seharusnya Rp 1600 per kg. Sementara raw sugar hanya dikenakan Rp 550 per kg padahal seharusnya Rp 1100 per kg sebagai angka aman untuk memaksimalkan produksi gula nasional.

"Kalau nggak aman investor nggak mau masuk," katanya usai rapat panja gula dengan para PTPN perkebunan tebu di Komisi VI, DPR-RI, Senayan, Rabu (12/5/2010).

Kedua adalah masalah bibit varietas yang tidak berkembang, yang dapat dilihat dari Pusat Penelitian Pabrik Gula (P3G) yang cenderung dikomersialkan karena berbentuk dalam PT. Selain itu dukungan pemerintah terhadap peneliti dibidang tebu dan gula sangat minim termasuk soal dukungan anggaran dan lain-lain.

"Sekarang banyak peneliti kita yang lari ke Thailand, karena peneliti kita tidak dihargai," terangnya.

Masalah lainnya adalah soal langkah intensifkasi yang belum maksimal, sehingga ada kecenderungan untuk memilih memperluas lahan tebu. Padahal dengan memaksimalkan pabrik gula yang ada dengan revitalisasi sudah cukup asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh.

"Pabrik gula tidak perlu ditambaha lagi, luasan  arealnya cukup 450.000 hektar, tapi intensifikasi harus, revitalisasi harus," serunya.

Ia juga mengkritik rekan-rekannya di DPR yang mengusulkan adanya studi banding produksi pabrik gula yang efisien di Thailand. Padahal kata dia, di Indonesia khususnya di wilayah Lampung sudah banyak pabrik yang memproduksi gula dengan sangat efisien.

"Kalau seperti ini terus saya nggak yakin tahun 2014 bisa swasembada. Jadinya akan seperti program yang dulu, seperti tahun 2009 mau swasembada, nyatanya molor sampai sekarang," terangnya.

"Apakah dibalik ini ada skenario agar swasembada tidak tercapai, itu menjadi pertanyaan buat saya," katanya.

(hen/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads