Anggota Komisi VI DPR-RI yang berasal dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid mengungkapkan setidaknya ada 3 masalah mendasar yang menyebabkan target swasembada produksi gula nasional bakal sulit tercapai.
Pertama soal tata niaga perdagangan pasar gula, menurutnya dalam mengejar swasembada gula pemerintah harus menerapkan pola bea masuk gula yang progresif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau nggak aman investor nggak mau masuk," katanya usai rapat panja gula dengan para PTPN perkebunan tebu di Komisi VI, DPR-RI, Senayan, Rabu (12/5/2010).
Kedua adalah masalah bibit varietas yang tidak berkembang, yang dapat dilihat dari Pusat Penelitian Pabrik Gula (P3G) yang cenderung dikomersialkan karena berbentuk dalam PT. Selain itu dukungan pemerintah terhadap peneliti dibidang tebu dan gula sangat minim termasuk soal dukungan anggaran dan lain-lain.
"Sekarang banyak peneliti kita yang lari ke Thailand, karena peneliti kita tidak dihargai," terangnya.
Masalah lainnya adalah soal langkah intensifkasi yang belum maksimal, sehingga ada kecenderungan untuk memilih memperluas lahan tebu. Padahal dengan memaksimalkan pabrik gula yang ada dengan revitalisasi sudah cukup asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh.
"Pabrik gula tidak perlu ditambaha lagi, luasan arealnya cukup 450.000 hektar, tapi intensifikasi harus, revitalisasi harus," serunya.
Ia juga mengkritik rekan-rekannya di DPR yang mengusulkan adanya studi banding produksi pabrik gula yang efisien di Thailand. Padahal kata dia, di Indonesia khususnya di wilayah Lampung sudah banyak pabrik yang memproduksi gula dengan sangat efisien.
"Kalau seperti ini terus saya nggak yakin tahun 2014 bisa swasembada. Jadinya akan seperti program yang dulu, seperti tahun 2009 mau swasembada, nyatanya molor sampai sekarang," terangnya.
"Apakah dibalik ini ada skenario agar swasembada tidak tercapai, itu menjadi pertanyaan buat saya," katanya.
(hen/qom)











































