Pasalnya, saat ini harga gula di dalam negeri sudah berangsur-angsur turun, padahal harga gula yang mereka impor, dibeli pada saat harga tinggi. Sehingga tidak semua gula impor sudah menggelontor ke pasar alias masih tertahan di gudang.
Dalam acara rapat panja gula di Komisi VI DPR-RI terungkap para importir gula seperti PTPN IX, PTPN X, PTPN XI dan RNI menyatakan pihaknya bakal mengalami kerugian karena harga gula di dalam negeri sudah turun. Faktor gula rafinasi yang diduga kembali merembes ke pasar dituding menjadi masalah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kembali lagi masalahnya adalah gula rafinasi," kata Dirut RNI Bambang Priyono.
Namun kata Bambang, masalah kerugian itu masih sebatas potensi karena belum semua gula yang dimiliki dilepas ke pasar.
Sementara PTPN IX telah mengimpor sebanyak 67.000 ton dan sudah melakukan penjualan 50.150 ton. Ternyata dengan harga jual gula sebesar Rp 8.500 per kg masih tidak diminati oleh para pedagang.
Angota Komisi VI DPR Abdul Wachid mengamini hal tersebut. Bahwa para importir gula bakal mengalami kerugian sangat besar, hasil lelang gula terakhir saja harga gula hanya dihargai Rp 7.900 per kg padahal importir membeli gula Rp 8.700 per kg.
Selain itu kata Wachid, indikasi merembesnya gula rafinasi ke pasar umum semakin kuat. Rencananya Komisi VI DPR RI akan melakukan sidak dan memanggil kembali Menteri Perdagangan untuk menjelaskan masalah ini.
"Dalam minggu ini kita akan sidak," tegas Abdul Wachid.
Pemerintah sebelumnya telah menugaskan kepada 6 perusahaan pelat merah untuk mengimpor gula dalam rangka mengatasi pasokan gula di dalam negeri di awal tahun 2010.
Enam perusahaan itu antaralain PTPN IX ditugasi 81.000 ton, PTPN X ditugasi 94.500 ton, PTPN XI ditugasi 103.500 ton, RNI ditugasi 85.500 ton, PPI ditugasi 85.500 ton dan Perum Bulog 50.000 ton. Umumnya hampir semuanya tidak mencapai target merealisasikan impor gula.
(hen/dnl)











































