Dana Asing Lari, Pemerintah Tak Khawatir

Dana Asing Lari, Pemerintah Tak Khawatir

- detikFinance
Jumat, 21 Mei 2010 17:14 WIB
Jakarta - Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengaku tidak khawatir dengan keluarnya arus dana asing (capital outflow), terkait krisis utang di Eropa. Saat ini pemerintah terus mencermati perkembangan dari penyelesaian utang Yunani dan juga pergerakan ekonomi di Eropa terkait hal tersebut.

"Kita cermati. BI-Menkeu terus ikuti," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam bincang dengan wartawan di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (21/5/2010).

Seperti diketahui, pada perdagangan bursa pekan ini, IHSG kian menurun hingga mencapai level 2.600-an yang diakibatkan sentimen krisis utang Eropa. Para investor khawatir akan hal tersebut, sehingga banyak beralih ke instrumen investasi yang lebih aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Adanya penurunan pada IHSG tidak berkaitan dengan spekulasi. Pergantian Menkeu, pengunduran Anggito atau isu lain. Ini pengaruh Eropa yang pemain di pasar tersebut agak menahan diri untuk perkembangan itu," ujarnya.

Kendati demikian, Hatta tidak merasa khawatir akan keluarnya dana asing dari pasar Indonesia karena didukung oleh fundamental yang kuat.

"Saya tidak terlalu khawatir capital outflow, karena pasar kita sangat baik. Bukan tanpa alasan ada dana asing masuk. Sepanjang yield kita baik, kita tidak usah khawatir," ungkapnya.

Namun, ia mengungkapkan, keadaan di Eropa tetap harus diwaspadai karena berpotensi menekan pasar di seluruh dunia.

Hal senada juga disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya saat ditemui di tempat yangsama. Menurut Budi, masalah capital outflow menyebabkan rupiah melemah akhir-akhir ini, tapi sifatnya temporer. Jadi tidak perlu dikhawatirkan.

"Ya seperti otoritas moneter di kawasan emerging. Kita semua mencoba menjaga masing-masing currency. BI tentu akan mencermati ini dan tentunya ini temporer. Sebentar lagi juga London perdagangannya buka. Nanti kita lihat perkembangannya," ujar Budi.

Budi menyatakan pihak BI melakukan langkah-langkah antisipasi seperti yang dilakukan Bank sentral lainnya untuk menjaga mata uangnya. Dia menyatakan pelemahan itu sepenuhnya karena faktor global.

"Oh ini global. Semata-mata faktor global. Masih ketidakjelasan dan mengenai penyelesaian krisis di Eropa. Jadi clarity-nya masih belum jelas. Langkah-langkahnya sudah diketaui. Tapi bagaimana kelanjutan dari langkah-langkah itu," jelasnya.

"Kita tentu berharap apa yang terjadi di Eropa itu cepat selesai karena ini jadi concern semua otoritas. Baik otoritas di wilayah kita maupun global yang menghendaki adanya kestabilan," jelasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads