Anggito menilai terdapat beberapa masalah yang menjadi tantangan Kementerian Keuangan, khususnya Badan Kebijakan Fiskal dalam menjaga stabilitas makro ekonomi Indonesia ke depannya. Pertama, mengantisipasi perluasan dampak krisis Yunani yang pengaruhnya bisa sampai ke Asia, termasuk Indonesia.
"Saya kira yang pertama jangan underestimate Yunani. Krisis Yunani itu pengaruhnya bukan hanya di Eurozone tapi bisa menyebar hingga ke Jepang, Cina, Amerika. Itu juga bisa spread ke Asia," ungkapnya saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (24/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak modal masuk ke Indonesia, karena (kondisi) Eeuro zone sedang tidak pasti. Sekarang Yunani sudah di-bailout Eurozone, IMF, dan ECB, sehingga mereka akan terbitkan surat utang lagi dengan rating yang tinggi dan itu akan diburu oleh investor. Kita harus hati-hati meskipun kita punya fundamental ekonomi yang bagus," jelasnya.
Oleh karena itu, lanjut Anggito, yang menjadi tantangan pemerintah berikutnya adalah bagaimana mengupayakan agar modal yang masuk ke Indonesia lebih kepada investasi fisik yang sifatnya jangka panjang. Dengan demikian akan ada nilai tambah berupa penyerapan tenaga kerja sehingga turut memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
"Inilah tantangan terbesar. Kalau growth (pertumbuhan ekonomi) kita tinggi, tapi karena konsumsi domestik, itu tidak sustainable. Jadi butuh investasi," jelasnya.
Selain itu, Anggito juga menyampaikan tantangan terakhir pemerintah yaitu mengurangi berbagai risiko investasi di Indonesia. Terutama di bidang infrastruktur di mana terdapat banyak eksekusi proyek yang belum bisa jalan karena terkendala banyak hal.
"Eksekusi dari proyek infrastruktur yang sudah kita siapkan selama ini harus ada langkah-langkah jelas. Mau dieksekusi atau tidak. Misal tol, listrik," tukasnya.
(nia/dnl)











































