"Targetnya seluruhnya sekitar 15%, ini akan membantu pemenuhan target investasi. Untuk Amerika sendiri bisa naik 15%, sudah bisa ditangan," kata Kepala BKPM Gita Wirjawan disela-sela pertemuan delegasi Mendag AS di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (25/5/2010).
Gita menambahkan, optimisme ini karena pada triwulan I-2010 saja, investasi AS ke Indonesia sudah cukup menggeliat berada diposisi 6 terbesar dari negara-negara lainnya. Posisi ini cukup menunjukan tanda-tanda yang positif sebab beberapa tahun lalu investasi AS ke Indonesia belum terlalu signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Gita mengakui, Indonesia harus tetap realistis terhadap masalah investasi investor AS ke Indonesia. Mengingat banyak investor AS yang belum tahu mengenai Indonesia, selama ini Invetasi AS lebih banyak mengarah ke Vietnam, China dan India.
"Ini justru yang harus kita pamerkan, kalau Indonesia nggak jelek juga," katanya.
Gita juga menambahkan sejalan dengan pertemuan Mendag AS Gary Locke hari ini, pihak AS menyampaikan dengan adanya penandatangan OPIC (Overseas Private Investment Corporation) pada 13 April 2010 lalu. Hal ini akan membuka peluang lebih banyak lagi investasi AS ke Indonesia, termasuk dari investor-investor clean energy.
"Ini sangat positif karena memperbaiki kesepakatan kedua negara yang sudah sejak tahun 1967. Ini kepentingan asuransi, reasuransi, pendanaan ekuitas, untuk investor AS yang mau masuk ke Indonesia," jelas Gita.
Gita mengatakan, sebanyak 40 perusahaaan yang dibawa oleh Mendag AS Gary Locke, merupakan perusahaan-perusahaan yang konsen dibidang produk ramah lingkungan dan energi terbarukan. Ia memperkirakan estimasi kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan tersebut minimum US$ 300-500 miliar.
Perusahaan-perusahaan AS yang ikut antaralain Capstone Turbine Corporation, Caterpillar, Echelon Corp, Emerson Electric, General Electric, Lockheed Martin Global, Oshkosh Corporation, Peabody Energy dan lain-lain.
(hen/ang)











































