"Kita inginnya 800 MW tapi kemampuannya hanya 100 hingga 150 MW," ujar Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/5/2010).
Menurut Dahlan, pembangunan PLTGB merupakan salah satu cara untuk mengatasi krisis listrik di tanah air terutama di kawasan Indonesia timur yang tidak memiliki tenaga panas bumi dan angin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dahlan, PLTGB maksimal berkapastas satu MW, dapat dikerjakan selama 11 bulan dengan biaya sekitar US$ 1 juta per MW. Biaya produksi listrik di PLTGB mencapai 9-10 sen dolar AS per kWh atau lebih mahal dibandingkan PLTU yang 5-6 sen dolar per kWh. Namun, angka ini jauh lebih murah dari BBM yang mencapai di atas 20 sen dolar per kWh.
"Dengan adanya proyek gasifikasi ini, PLN akan menghemat energi hingga 40%. Untuk teknologinya sendiri akan impor dari China, Jerman dan India," papar Dahlan.
Rencananya, pada September 2010, PLTGB di Sangatta, Kaltim berkapasitas 15 MW mulai beroperasi. Sementara dua PLTGB lainnya juga di Sangatta 10 MW dan Melak, Kutai Barat 8 MW akan beroperasi akhir 2010.
Ketiga PLTGB tersebut yang dibangun oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat.Selain itu, BUMN listrik ini berencana membangun sejumlah PLTGB seperti di Palu, Toli-Toli, Mamuju, Donggala, dan Banjarmasin.
"Saya ingin pembangunan PLTGB cepat realisasinya, supaya tahun 2011 penggunaan BBM yang mencapai Rp5 5 triliun per tahun bisa turun drastis," katanya.
(epi/qom)










































