"Tudingan ini jelas salah dan terkesan sembrono. Karena salah satu nilai dasar Greenpeace yang telah mendapat reputasi internasional adalah independensi," ujarΒ juru kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara Hikmat Soeriatanuwijaya kepada detikFinance, Kamis (27/5/2010).
"Greenpeace adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang punya kebijakan tidak menerima donasi dari pemerintah dan perusahaan. Tujuannya adalah menjaga independensi. Sumber pendanaan Greenpeace didapatkan dari individu, dari lebih 3 juta orang di seluruh dunia yang melakukan donasi rutin per bulan dan di Indonesia sendiri sekitar 30 ribu orang," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan tentu saja, Greenpeace tidak akan sebodoh itu bisa 'tidak sadar' telah ditunggangi oleh pihak tertentu," tegasnya.
Berkaitan dengan kampanye kami di bidang kelapa sawit dan kaitannya dengan pembabatan hutan, Hikmat mengatakan, tujuannya tidak lain untuk menghentikan oknum perusahaan besar melakukan perusakan hutan, yang telah sangat merugikan lingkungan Indonesia, mengancam keanekaragaman hayati ,dan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada hutan, yang kemudian berdampak buruk terhadap perubahan iklim.
Hikmat mengatakan, Greenpeace juga telah mendesak pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan industri sawit dan meningkatkan taraf hidup petani kecil dengan cara melakukan intensifikasi demi meningkatnya produktivitas kebun sawit per hektar di lahan yang telah ada. Satu-satunya yang anti bagi Greenpeace adalah perusakan lingkungan yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab.
"Seperti telah kami jelaskan di atas, itu adalah tidak benar dan Greenpeace Asia Tenggara serta Greenpeace Internasional telah menyiapkan langkah hukum untuk menanggapi hal itu. Tetapi kami kemudian memutuskan tidak melanjutkan langkah hukum itu, karena Joko Supriyono secara terbuka meminta maaf kepada Greenpeace dan mengakui pernyataannya adalah salah," tutupnya. (dnl/qom)











































