Kepala BPS: Ada Saja Petugas Yang Mengarang Data

Kepala BPS: Ada Saja Petugas Yang Mengarang Data

- detikFinance
Minggu, 30 Mei 2010 17:56 WIB
Kepala BPS: Ada Saja Petugas Yang Mengarang Data
Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan tak memungkiri selama hampir sebulan berjalannya Sensus Penduduk 1-30 Mei 2010 tak terlepas dari masalah human error dari para petugasnya.

Human error itu diantaranya ada oknum petugas yang tak bertanggung jawab seperti mengarang data sensus, mewawancarai masyarakat tak serius, kurang teliti, kurang sabar, kurang telaten dan lain-lain.

"Ada saja dari 700 ribu orang yang jumlahnya besar ini (petugas sensus), mereka biar bagaimanapun latarbelakangnya macam-macam, dari budaya, pendidikan, perilaku. Ada saja yang kurang bertanggung jawab, kurang telaten, kurang sabar, nanyanya yang ecek-ecek saja atau mengarang-ngarang," kata Rusman saat dihubungi detikFinance, Minggu (30/5/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakannya, BPS telah menyiapkan para petugasnya (petugas cacah lapangan/PCL) secara matang termasuk dari sisi materi, namun yang 'nakal' selalu saja ada. Menurutnya masalah-masalah tersebut segera diantisipasi pihak BPS dengan cara mengganti langsung petugas tersebut dengan petugas lain dari BPS.

"Karena sensus sangat terbuka, petugas seperti ini mudah ketahuan. Segera kita ganti, di DKI  Jakarta saja ada 10 petugas yang diberhentikan. Ya berhenti saja, tidak menerima kompensasi lain," ujarnya.

Rusman menyatakan untuk menjadi petugas sensus penduduk, BPS melakukan perekrutan dengan pendidikan minimal SMA (Sekolah Menengah Atas) dan telah memenuhi seleksi ketat. Dari seleksi tersebut muncul angka 700 ribu petugas sensus.

"Mereka direkrut dari petugas lokal, minimal SMA, ada seleksi karena ini tugas berat, tugas negara. Kita training 3 hari 3 malam supaya punya kompetensi," jelasnya.

Selain hambatan internal, lanjut Rusman, hambatan eksternal pun tidak kalah berat dalam pelaksanaan Sensus Penduduk 2010. Hambatan tersebut meliputi kurangnya kerjasama masyarakat maupun hambatan geografis yang sulit.

Ia mencontohkan untuk daerah perkotaan kesulitannya yaitu adanya resistensi di daerah yang elit. Misalnya Sulit dihubungi, waktu luang yang sibuk dan berbagai alasan.

"Pagi berangkat ke kantor, malam dikunjungi alasannya sedang istirahat, weekend malah liburan ke luar kota. Orang seperti ini kami berikan SMS, sekadar mengingatkan," katanya

Namun kata dia untuk wilayah kota namun kalangan  menengah kebawah lebih mudah alias gampang ditemui. Sedangkan untuk di daerah-daerah, kendalanya seperti kesulitan alam yaitu transporatasi sulit dengan risiko dan biaya yang tinggi.

"Alhamdulillah,  sudah sampai di sana, mereka sangat welcome, petugas kami merasa sangat dihormati," cerita Rusman.

Rusman menyampaikan sejauh ini masyarakat pedalaman masih menerima para petugas sensus dengan baik. Hal ini karena pihak BPS telah mengantisipasi hal tersebut dengan merekrut para petugas terdekat dari lingkungan masyarakat pedalaman itu.

"Kita pakai petugas lokal, kalau nggak dari desa lain. Kita cari yang sangat dekat untuk memudahkan komunikasi," tukasnya.

(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads