Food Station: Tak Ada Mafia Beras di Cipinang

Food Station: Tak Ada Mafia Beras di Cipinang

- detikFinance
Senin, 31 Mei 2010 18:40 WIB
Jakarta - PT Food Station Tjipinang menegaskan tidak ada mafia beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Tidak meratanya harga beras di tiap pulau, lebih karena tingginya biaya transportasi.

Demikian disampaikan Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Sjamsul Hilataha, dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikFinance, di Jakarta, Senin (31/5/2010).

"Saya tegaskan, tidak ada mafia beras yang 'berkuasa' di Cipinang ini," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agar harga dapat merata di seluruh wilayah Indonesia, Sjamsul menyarankan agar pemerintah memberikan subsidi untuk biaya transportasi beras. Mahalnya harga beras ini, kembali terungkap saat Sjamsul menerima perwakilan dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan akhir pekan kemarin,

Ia menambahkan, mahalnya biaya transportasi tentu akan menyulitkan cocoknya harga antara pemasok dan pedagang. Ini menyebabkan masa tunggu beras menjadi lama.

"Kondisi inilah yang kemudian diterjemahkan sebagian orang sebagai ulah para mafia beras yang 'berkuasa' di Cipinang," katanya.

Lanjutnya, "Untuk mengatasi lamanya masa tunggu beras, sebaiknya pemasok membawa contoh beras dulu saja. Kalau harga sudah cocok, baru beras dikirim," ucapnya.

Menurutnya, volume beras terkirim yang minim menjadi salah satu kendala masuknya beras dari luar pulau Jawa ke PIBC. Apalagi mereka menggunakan peti kemas yang mencapai 300 per kg. Sejatinya, PIBC mampu menyerap beras dari mana pun. Asalkan kualitas dan harganya sesuai.

"Saya kira, sudah saatnya pemerintah memikirkan subsidi biaya transportasi  yang akan masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang.  Dengan begitu, arus beras di luar Jawa tidak terkendala, sehingga pasok untuk kebutuhan Jabodetabek tetap aman terkendali," papar Sjamsul.

Pasokan beras terbesar masih berasal dari Jawa Barat, khususnya Karawang dan Cirebon. Sampai akhir pekan lalu, kontribusi beras asal Karawang mencapai 20.608 ton. Jumlah ini setara dengan 35,55% dari total beras yang masuk. Sedangkan beras asal Cirebon sebanyak 19.513 ton atau 33,66%. Sementara iutu, beras yang berasal dari antar pulau, termasuk Sulsel, hanya 264 ton atau 0,46%.
(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads