Menurut Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, pihaknya siap secara kelembagaan setelah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Maluku menggandeng pihak ketiga membentuk PT Maluku Energi Nusantara melalui joint venture.
“Kami juga siap secara operasional, keuangan, administrasi, dan dukungan sumber daya manusia untuk berpartipasi di Blok Masela,” kata Karel seperti dikutip dari situs resmi BP Migas, Selasa (1/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karel mengungkapkan, Maluku masih memiliki potensi cadangan hidrokarbon yang besar. Dari 16 cekungan yang terdapat di Provinsi Maluku, hanya Cekungan Seram yang telah berproduksi. Cekungan-cekungan lain masih dalam tahap eksplorasi.
“Karena itu, kami akan mendukung investor migas yang ingin beroperasi di Maluku,” katanya.
Sementara itu, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, Agus Suryono menyatakan, saat ini kelanjutan proyek di Blok Masela masih menunggu keputusan pemerintah terkait fasilitas pengelolaan gas alam cair (LNG). Belum diputuskan apakah akan membangun kilang LNG di darat atau opsi terminal terapung.
“Masih dikaji tim independen. Ditargetkan Agustus 2010 sudah diputuskan,” jelasnya.
Menurut dia, jika sesuai rencana, Inpex bisa mulai produksi gas di Blok Masela pada 2016. Investasi yang dikeluarkan untuk proyek strategis itu mencapai US$ 10 miliar atau sekitar Rp 90 triliun.
(epi/ang)











































