Industri kelapa sawit harus mampu mengembangkan produk olahan kelapa sawit berkelanjutan hingga industri hilir sebagai jawaban atas tantangan itu.
"Masa depan industri sawit sangat bergantung pada peningkatan kapasitas riset dan penelitian," ungkap Deputi Kementerian BUMN Bidang Agro Industri Agus Pakpahan usai membuka kegiatan International Oil Palm Conference (IOPC) 2010 di gedung Jogja Expo Center (JEC), Jalan Janti, Yogyakarta, Selasa (1/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia sudah memulai langkah pengembangan sawit yang ramah lingkungan," kata Agus.
Dia mengatakan, industri sawit di Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia terkait dengan beberapa pencapaian selama ini seperti pemenuhan industri yang berkelanjutan sesuai skema Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).
Menurut dia, industri sawit Indonesia disebut cukup kokoh dengan posisi sebagai pemasok CPO terbesar dunia dengan total produksi 21,14 juta ton. Sebanyak 4,86 juta ton di antaranya untuk konsumsi dalam negeri dan sisanya untuk kebutuhan ekspor.
"Total nilai ekspor CPO berikut turunannya mencapai lebih dari US$ 11,28 miliar Amerika, ini jadikan posisi CPO sebagai andalan devisi selain migas, meski kita berhadapan juga dengan isu negatif soal sawit," katanya.
Menurut dia, bila masih ada citra negatif soal sawit, hal itu merupakan menjadi tantangan tersendiri untuk merubah citra tersebut. Meski secara fakta atau secara ekonomi, industri sawit Indonesia jadi tumpuan lebih dari 4 juta kepala keluarga.
"Industri ini juga mampu memenuhi sendiri kebutuhan minyak nabati dalam negeri," katanya
Dia menambahkan, saat ini telah ada program redesain pengembangan industri kelapa sawit sesuai lingkungan fisik dan sosialnya. Banyak riset yang telah dihasilkan. Salah satu diantaranya langkah pemanfaatan kayu pohon sawit untuk bahan produksi plywood dari lahan seluas 7 juta hektar.
"Jika terealisasi, berarti kebutuhan bahan baku tidak perlu tebang hutan alam. Sudah ada kerjasama dengan kebun sawit seperti di Inhutani IV," kata Agus.
Sementara itu Derom Bangun, Wakil Ketua I, Dewan Minyak Sawit Indonesia mengatakan, keinginan transformasi industri sawit terutama terkait aspek dagang. Sebagai satu produsen terbesar dunia untuk CPO, Indonesia menghadapi persaingan dalam perdagangan.
Kini di PTPN III di Medan misalnya kini tengah menjalani proses sertifikasi dan audit lahan seluas 75 ribu hektar. Melalui audit dan sertifikasi ini, berarti perusahaan telah berani buka diri untuk penilaian dari luar , bahwaΒ pengelolaanya sudah ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
"Melalui langkah transformasi, perbaikan dari segi lingkungan di industri sawit kita harapkan lebih berdaya saing. Tata laksana industri harus semakin ramah lingkungan, agar dunia melihat Indonesia itu jalankan syarat sesuai aturan yang dipandang baik bagi lingkungan," kata Derom.
Derom membantah jika pengembangan sawit banyak mengganggu habitat binatang seperti orangutan. Pasalnya di kebun sawit Sulawesi, juga di Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra dari sekitar 7 juta luas lahan sawit, hanya sedikit atau segelintir yang bersentuhan dengan daerah hidup orangutan.
Transformasi dalam industri sawit, tidak hanya dalam produk CPO semata. Banyak derivatif produk dari minyak sawit dari produk makanan seperti coklat hingga lipstik. Transformasi ke industri kosmetika bisa saja jadi pilihan pengembangan industri hilir.
(bgk/ang)











































