"Atas dasar pertimbangan-pertimbangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2011 bisa mencapai 6,0%-6,5%. Kami memandang bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah sebagai dasar penyusunan RAPBN tahun anggaran 2011 yakni sebesar 6,2%-6,4% tersebut, masih cukup realistis dan berada dalam kisaran proyeksi pertumbuhan ekonomi Bank Indonesia," ujar Pjs Gubernur BI Darmin Nasution.
Darmin menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR-RI mengenai pembicaraan pendahuluan RAPBN tahun anggaran 2011 di Gedung DPR-RI, Senayan, Selasa malam (01/06/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjut Darmin, berdasarkan kajian ekonomi makro terkini yang dilakukan di BI, perbaikan ekonomi global juga terus berlanjut ditengah risiko ketidakpastian pasar keuangan global yang cukup tinggi akibat krisis utang yang dialami Yunani.
"IMF (Dana Moneter Internasional) yang berdasarkan publikasi World Economic Outlook (WEO) edisi April 2010 memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2010 dapat mencapai 4,2%. dan di 2011 mencapai 4,3%. World Bank juga mengubah proyeksinya dimana untuk tahun 2010 ekonomi dunia yang semula diprediksikan 2,8% menjadi 3,5% dan untuk 2011 mencapai 4,0%," papar Darmin.
Menurut Darmin, prospek perekonomian global yang membaik berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi domestik ditahun 2010 dan 2011 terutama melalui ekspor.
"Perbaikan kinerja ekspor saat ini masih terus berlangsung, tercermin pada pertumbuhan riil sebesar 19,6% (yoy) pada triwulan I-2010. Perkembangan ini akan terus meningkat," jelasnya.
Bank sentral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2011 juga ditopang masih kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan perbaikan investasi.
"Konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat 4,8% di 2-1 menjadi sekitar 5% di 2011. Sementara investasi diperkirakan meningkat dari 9% di 2010 menjadi sekitar 11% di 2011," ungkapnya.
Konsumsi rumah tangga, sambung Darmin, didorong oleh perbaikan daya beli sejalan dengan peningkatan pendapatan terutama di daerah yang berorientasi ekspor. Sedangkan prospek investasi didorong oleh meningkatnya permintaan domestik maupun ekspor.
"Prospek peningkatan investasi juga dipengaruhi oleh perbaikan sovereign credit rating Indonesia menuju investment grade oleh lembaga pemeringkat internasional," tukasnya.
(dru/dnl)











































