Menurut Bendahara Payuguban Tunggal Rasa seluruh Indonesia, Sakijan, kenaikan harga elpiji non subsidi akan meningkatkan dana yang dikeluarkan pedagang untuk membuat satu porsi mie ayam.
Jika sebelumnya untuk membuat mie dibutuhkan dana sebesar Rp 200 per porsi maka akan meningkat menjadi Rp 540 per porsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, kenaikan biaya produksi tersebut belum menghitung kenaikan harga bahan pendukung lainnya untuk membuat satu porsi mie ayam.
"Ayam, lada, bawang merah, kemiri termasuk juga terigunya akan ikut naik. Pabrik juga akan naikkan harga terigu karena TDL juga akan naik," katanya.
Namun Sakijan belum menghitung secara pasti berapa besar kenaikan harga mie ayam jika TDL dan elpiji non subsidi benar-benar naik pada tahun ini.
Sakijan mengaku, pihaknya harus menghitung besaran kenaikan harga produk yang dijualnya secara hati-hati. Pasalnya, kenaikan kedua sumber energi tersebut secara otomatis akan menurunkan daya beli masyarakat termasuk berdampak pada kuantitas membeli barang dagangannya.
Dari biasanya 1-2 kali seminggu bisa menjadi dua kali dalam seminggu. "Saya contohkan saat harga mie ayam dinaikan menjadi Rp 7.000 per porsi maka terjadi penurunan penjualan 50-60 persen. Saya biasanya jual 350-400 porsi per hari, saat harga dinaikkan maka turun jadi 200 porsi sehari," ungkapnya.
Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah agar mengurungkan niatnya untuk menaikkan TDL dan elpiji pada tahun ini. Menurutnya, dampak kenaikan tersebut akan banyak dirasakan oleh masyarakat di tanah air.
"Pemerintah harus memperhitungkan, misalnya untuk satu 1 gerobak mie ayam itu kan tidak hanya menghidupi satu orang, tapi juga bisa lima orang yaitu anak dan istri dari pemilik gerobak itu," jelasnya.
(epi/ang)











































