"Sawit kita memegang 45%, kalau kita out bisa goyang harga dunia," kata Direktur Utama PT Nusantara Sawit Persada Teguh Patriawan yang juga anggota Kadin dalam acara diskusi sawit di Hotel Le Meredien, Jakarta, Selasa (8/6/2010).
Hal senada pun disampaikan oleh Lektor Kepala Bagian Kebijakan Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB Dodik Ridho Nurrochmat yang mengatakan fenomena pemimpin pasar yang dikendalikan oleh pembeli justru terasa aneh. Sehingga kata dia, adanya upaya pembentukan Indonesia Sustainable on Palm Oil (ISPO) bisa menjadi kekuatan Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Unila Bustanul Arifin mengatakan masalah harga sawit dunia ini sudah dikendalikan oleh pasar derivatif yang sudah menjadi penentu utama. Sedangkan produsen sawit seperti Indonesia tak punya kekuatan.
Terlebih saat ini berdasarkan hasil kajian pendekatan geografis ekonomi, rantai nilai global di komoditas pertanian justru yang menentukan adalah pembeli bukan penjual. Bentuk dari implementasi ini adalah pasar kiblat harga CPO dunia justru berada di Rotterdam Belanda (Eropa).
"Siapa yang mempengaruhi pola perjalan barang dan jasa adalah buyer bukan seller. Masak produsen dengan 85% produski sawit dunia (Indonesia dan Malaysia) tidak mempengaruhi market," jelasnya.
Pada tahun 2009 produksi CPO Indonesia mencapai 21,5 juta ton, dari jumlah itu diekspor sebanyak 14,3 juta ton di antaranya sebanyak 7,9 juta ton dalam bentuk CPO dan 6,4 juta ton berbentuk minyak goreng dan produk turunan CPO. Sementara posisi kedua diduduki oleh Malaysia sebanyal 17,5 juta ton, disusul Nigeria 870.000 ton, Kolombia 794.000 ton dan lain-lain.
(hen/dnl)











































