Menurut Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Hardiono, salah satu cara yang ditempuh BP Migas untuk mencapainya yaitu dengan mencanangkan agar penetapan peningkatan anggaran eksplorasi menjadi salah satu syarat persetujuan rencana kerja dan anggaran tahunan Kontraktor (work program and budget/WP&B).
“Saat ini, anggaran eksplorasi hanya lima persen dari anggaran yang dikeluarkan kontraktor, Jumlah ini masih lebih rendah dari anggaran administrasi yang mencapai sembilan persen,” kata Hardiono dalam situs resmi BP Migas, Rabu (9/8/2010).
Dia menjelaskan, sejak tahun 2000, terjadi penurunan kegiatan eksplorasi yang sangat signifikan. Pasalnya, banyak perubahan peraturan perundangan yang membuat investor ragu-ragu menanamkan investasinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Implikasinya, kata dia, terjadi hambatan dalam upaya penemuan cadangan baru minyak dan gas bumi di lapangan baru maupun di lapangan exisiting. Dia mencontohkan, periode tahun 1990 sampai 2000, saat rata-rata eksplorasi mencapai 10 persen, cadangan migas yang berhasil ditemukan mencapai 223 juta barel ekuivalen minyak.
Dengan anggaran lima persen, rata-rata temuan eksplorasi hanya sekitar 137 juta barel ekuivalen minyak per tahun.
Memasuki tahun 2010, BPMIGAS mendorong kontraktor KKS untuk terus mencari strategi baru eksplorasi. Strategi-strategi yang bukan hanya sekedar konsep, tetapi strategi praktis yang bisa diimplementasikan secara operasional sesegera mungkin. Salah satunya, eksplorasi yang fokus pada optimalisasi di wilayah eksisting dan lapangan tertier.
Menurut Hardiono, rasio keberhasilan eksplorasi Indonesia yang masih tinggi sekitar 4 –50 persen dengan sukses keekonomian 30 persen harus benar-benar dimanfaatkan semua pihak terkait.
“Jangan sampai peluang ini lewat begitu saja karena alokasi anggaran yang sangat rendah,” katanya.
Terkait penurunan produksi alamiah, dalam kurun waktu 2003 hingga 2007, BPMIGAS berhasil mengurangi penurunan alamiah menjadi rata-rata 4,5 persen. Bahkan, tahun 2008 dan 2009 angkanya hanya 0,7 persen.
Padahal, penurunan alamiah biasanya sebesar 12 persen. BPMIGAS dan kontraktor KKS menargetkan, lima tahun mendatang penurunan rata-rata alamiah menjadi tiga persen.
(epi/ang)











































