BI: Suku Bunga Tidak Bisa Cepat Turun

BI: Suku Bunga Tidak Bisa Cepat Turun

- detikFinance
Jumat, 11 Jun 2010 16:41 WIB
BI: Suku Bunga Tidak Bisa Cepat Turun
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui penurunan suku bunga kredit memang cenderung lambat walaupun suku bunga acuan (BI-Rate) masih tetap di posisi 6,5% dalam waktu lama. Penurunan suku bunga memang tidak bisa cepat karena bisa membuat bank terganggu.

"Memang itu bukan sesuatu yang bisa cepat karena kalau tidak bank-nya bisa rontok. Jangan harap suku bunga bank bisa turun langsung 1% itu susah," ujar Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (11/06/2010).

Meski sulit turun, Darmin mengatakan BI pihaknya terus mendorong agar suku bunga kredit bisa terus turun secara perlahan dan gradual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan bulanan bank-bank, Darmin mengatakan faktor-faktor yang menghambat penurunan suku bunga kredit antar bank berbeda-beda. Ia mengatakan, salah satunya faktor adalah penghitungan premi risiko perbankan yang tidak benar.

"Tidak sama masing-masing bank, antara lain premi risiko yang menghitungnya tidak betul. Mungkin saja bank-bank ingin aman sehingga dibuat menjadi lebih besar (premi risiko)," katanya.

Untuk itu, lanjut Darmin, bank sentral akan menunjukkan cara menghitung premi risiko yang benar. "Jadi begini lho, kita akan tunjukkan cara hitungnya," tegasnya.

Ditempat yang sama Deputi Gubernur terpilih Halim Alamsyah mengatakan memang ada empat komponen yang mempengaruhi penurunan suku bunga.

"Memang premi risiko yang masing-masing bank tidak sama. Maka kita pelajari dulu bagaimana variasi bank menghitung premi risiko," ungkapnya.

Bank sentral, lanjut Halim, akan mengetahui lebih jauh mengapa sebuah premi risiko bank melonjak. "Tapi ada juga yang tetap makanya itu yang sedang kita cari," tuturnya.

Untuk diketahui BI mencatat suku bunga kredit terus menunjukkan penurunan walaupun tipis. Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) rupiah turun 13 bps menjadi 12,44% jika dibandingkan dengan akhir bulan April 2010 yang sebesar 12,57%.


(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads