Tak Lagi Jadi Orang Nomor 1, Dahlan Iskan Mawas Diri

Tak Lagi Jadi Orang Nomor 1, Dahlan Iskan Mawas Diri

- detikFinance
Senin, 14 Jun 2010 10:52 WIB
Jakarta - Dahlan Iskan mengaku merasa jadi mawas diri dan belajar lebih rendah hati sejak dilantik menjadi Direktur Utama PT PLN (Persero) pada akhir tahun lalu. Karena dia tidak lagi menjadi orang nomor satu seperti saat di Grup Jawa Pos dulu.

Demikian disampaikan Dahlan saat berbincang dengan detikFinance di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat lalu (11/6/2010).

"Saya dulu menjadi orang nomor satu. Ucapan saya sudah melebihi SK (surat keputusan). Saya tidak punya atasan. Sekarang saya punya atasan banyak sekali. Presiden, Wakil Presiden, Menteri banyak, Dirjen banyak, ada Komisaris, Komisi DPR-nya juga banyak,” ujar Dahlan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun setelah memiliki banyak atasan, justru Dahlan merasa lebih mawas diri. Dia jadi menyadari 'di atas langit masih ada langit' sehingga ia menjadi rendah hati selama memimpin BUMN listrik itu.

"Kalau tidak nanti saya jadi sombong. Di sini saya belajar rendah hati karena saya menyadari di atas langit masih ada langit. Baik juga untuk mengendalikan diri," ungkapnya sambil tersenyum.

Pada kesempatan yang sama, Dahlan juga menceritakan rasa pesimistisnya  memimpin PLN. Dia merasa akan kesulitan untuk merombak tubuh PLN karena masalah yang dihadapi perusahaan listrik pelat merah itu begitu rumit. Namun ternyata, setelah dijalani proses perombakan itu tidak memakan waktu lama.

"Itu saya surprise ternyata perombakan ini lebih cepat dari yang dibayangkan. Kemudian saya analisa. Kenapa ya? Oh saya tahu, karena di PLN ini banyak sekali orang pintar dan mereka tahu semua persoalan PLN itu apa, mereka tahu bagaimana memecahkan  persoalan itu, tapi memutuskannya yang kurang berani," jelasnya.

"Kemudian memang banyak orang bilang ubah budaya itu sulit, perlu bertahun-tahun itu kalau yang diubah masyarakat umum. Misalnya, saya jadi Bupati di Lombok Timur, itu pasti susah sekali. Tapi inikan PLN yang rakyatnya pendidikan sama, umumnya orang teknik, bahasanya sama, sehingga mereka untuk terima yang baru gampang sekali," tambahnya.

(epi/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads