"Ada suara-suara balik lagi ke minyak tanah. Kalau program konversi balik lagi iti nggak benar," kata Ketua Umum Asosiasi Tabung Baja (Asitab) Tjiptadi di kementerian perdagangan, Jakarta, Rabu (16/6/2010).
Menurut Tjiptadi untuk kembali ke minyak tanah sangat tak mungkin karena selama program konversi berlangsung hingga tahun 2010 telah menghasil penghematan sebesar Rp 52 triliun lebih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan mulai dari tahun 2006 sampai Januari 2010 produsen tabung telah mengirim 54 juta tabung dan 6 juta diperoleh melalui impor sehingga yang sudah ada ditangan Pertamina sebagai pelaksana program konversi sudah mencapai 60 juta tabung.
Sementara kompor dan aksesories telah dikirim ke Pertamina sebanyak 45 juta unit. Sementara penerima paket program konversi mencapai 44,8 juta set termasuk tabung, kompor dan asesories.
"Masyarakat jangan takut menggunakan produk program konversi namun harus lebih berhati-hati," serunya.
Diakuinya, masih saja ada pihak-pijak yang tak bertanggung jawab dengan memproduksi program konversi seperti tabung, selang,regulator, kompor di bawah standar yang berbahaya bagi keselamatan.
"Tim terpadu pemerintah telah dibentuk untuk melakukan pengawasan intensif," katanya.
Sementara itu Sekjen Asitab Triyantoni mengatakan masalah kasus tabung terbakar bukan menjadi alasan karena pada saat masyarakat saat dahulu menggunakan kompor minyak tanah, kasus kebakaran kompor minyak tanah pun kerap terjadi.
Data Asitab mengungkapkan dari 48 kasus terbakarnya tabung elpiji sejak program konversi sejak 2006-sampai saat ini. Terdapat 21% dipicu oleh selang, 2% faktor tabung bocor , faktor katub 6%, faktor regulator 6%, seal karet tabung bocor 6%.
"Selebihnya karena faktor human error," tambah Tjiptadi.
(hen/qom)










































