Demikian disampaikan oleh Direktur Pinjaman dan Hibah Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu Maurin Sitorus di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (17/6/2010).
"US$300 juta dari Jepang (JICA), US$300 juta dari Perancis (AFD), US$200 juta dari World Bank. Semua pinjaman program," ujar Maurin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pinjaman ini nantinya masuk ke kas negara dan bisa digunakan untuk membiayai defisit yang mencapai 2,1%.
"Kontrolnya lewat keputusan menteri, mereka (para debitur) hanya melihat kebijakan. Memang itu kreativitas kita agar dapatkan pinjaman berbunga rendah," jelasnya.
Untuk pinjaman dari JICA dan AFD, memiliki jangka waktu 15 tahun dengan masa tenggang 5 tahun. Sementara Bank Dunia (World Bank) bertenor 24 tahun.
Pinjaman program ini telah dimulai sejak 2008, dengan total pinjaman selama 3 tahun mencapai US$1,9 miliar. Dari Perancis (AFD) US$800 juta, Jepang (JICA) US$900, dan World Bank US$200 juta.
Selain itu, Asian Development Bank (ADB) juga berencana untuk memberikan pinjaman program pada 2011 untuk program perubahan iklim Indonesia.
"Asean Development Bank atau ADB, sudah menyatakan tertarik untuk gabung, mungkin 2011," ungkapnya.
(nia/dnl)











































