Supermarket Eropa Bakal Didemo Jika Jual Paha Kodok

RI Siapkan Antisipasi

Supermarket Eropa Bakal Didemo Jika Jual Paha Kodok

- detikFinance
Jumat, 18 Jun 2010 08:30 WIB
Jakarta - LSM lingkungan Greenpeace membantah telah menyerukan aksi penolakan terhadap produk paha kodok. Namun Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan bersikukuh mendapatkan info atas aksi Greenpeace itu dari importir Eropa.

Thomas menegaskan pihaknya mendapatkan informasi soal gerakan menghambat penjualan paha kodok (frogs legs) di Eropa importir paha kodok di Eropa. Dalam laporan tersebut disebut nama LSM lingkungan internasional.

"Ini informasi email dari salah satu pengusaha perikanan yang ada di Eropa, semacam importir," kata Thomas kepada detikFinance, sembari menunjukkan email dari importir Eropa tersebut, Kamis (17/6/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Thomas menyampaikan, berdasarkan email tersebut, dikatakan bahwa Greenpeace telah menyampaikan bahwa paha kodok yang diperoleh berasal dari proses pemotongan kodok secara tidak hewani.

"We have been informed that certain of the Europen supermarkets have been contacted by Greenpeace, informing them, they will go for some actions in their shops. For reason they are selling frogs legs and that frogs legs are killed a terrible way," tutur Thomas menyampaikan isi email tersebut.

Dikatakannya gerakan ini memang baru dimulai, namun ia mengaku posisi Indonesia yang menjadi pemasok ekspor paha kodok terbesar di dunia harus segera mengantisipasi masalah ini. Ia berharap masalah ini jangan sampai berlarut-larut seperti dalam kasus sawit.

Salah satu langkah yang harus dilakukan pihaknya adalah meyakinkan bahwa kodok Indonesia dipotong secara baik. Upaya pembangunan rumah potong bagi kodok akan disiapkan oleh Indonesia.

"Eropa itu sering kali kalau ada gerakan, dijadikan peraturan," katanya

Thomas menjelaskan berdasarkan penuturan importir tersebut hal semacam ini pernah terjadi pada periode tahun 1970-80 di Eropa. Yaitu saat terjadi penayangan pemotongan kodok di India dan Bangladesh yang ditayangkan BBC. Walhasil muncul adanya pelarangan ekspor kodok ke Eropa pada tahun 1980-an.

"Sehingga pada waktu itu orang Eropa tak mau makan kodok. Selama 10 tahun dilarang lalu sekarang dicabut," jelasnya.

Juru kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, Hikmat Soeriatanuwijaya sebelumnya mengaku pihaknya bingung dengan tudingan tersebut karena selama ini tidak pernah bersinggungan langsung dengan masalah hak-hak binatang. Hikmat bahkan sudah mengontak sejumlah perwakilan Greenpeace di negara-negara lain, namun semuanya menyatakan tidak terlibat dengan kampanye penolakan paha kodok ini.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads