Arus Globalisasi Makin Kuat, Pebisnis Lirik Dunia Pendidikan

Arus Globalisasi Makin Kuat, Pebisnis Lirik Dunia Pendidikan

Ramdhania El Hida - detikFinance
Sabtu, 19 Jun 2010 13:42 WIB
Jakarta - Para pelaku bisnis kini mulai melirik dunia pendidikan sebagai peluang usahanya. Pasalnya, arus globalisasi dan modernisasi semakin kuat dari hari ke hari.

Junior Manager Internasional Language Programs (ILP) Monica Agnes mengakui dari 50 outlet ILP franchise-nya, hampir 90% dimiliki para pebisnis. Sedangkan, sisanya baru dimiliki orang yang memiliki latar belakang pendidikan.

"Sekitar 10% owner yang punya background pendidik, selebihnya pure pembisnis," ujar Monica saat ditemui di Pameran Waralaba di JCC, Sabtu (19/6/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Monica menilai, bergeraknya para pembisnis ke dunia pendidikan ini karena pendidikan tidak akan pernah mati. Potensi inilah yang membuat pihak ILP menjadikan mereknya sebagai salah satu produk franchise di Indonesia.

"Dunia pendidikan enggak pernah ada matinya. Kita termasuk salah satu pionir di franchise lembaga pendidikan, dari buka pertambahannya cukup signifikan," jelasnya.

ILP berdiri di Indonesia sejak 32 tahun silam dengan 4 outlet cabang sendiri dan 50 outlet miliki franchise. Dibukanya lembaga pendidikan ini untuk dimiliki umum sejak 12 tahun, tidak serta merta membiarkan para pembisnis untuk menjalankan bisnisnya sesuai naluri. Oleh karena itu, tidak hanya pengajar yang melalui proses pelatihan tetapi para pembeli waralaba pun turut dilatih.

"Ini kan lembaga pendidikan, kita juga harus menjaga kualitas, apalagi banyak yang tidak memiliki background pendidik. Kan enggak bisa jual nasi goreng kalau enggak tahu cara buatnya," tegasnya.

Dengan beratnya tanggung jawab tersebut, Monica mengakui pihaknya juga tidak bisa membuka outlet sembarangan. Hal ini terlihat dari target outlet baru yang hanya sekitar 5 per tahun.

"Target per tahun enggak banyak, enggak bisa kayak ritel. Karena untuk bangun suatu sekolah persiapannya banyak, rekrut guru susah, running sendiri butuh waktu," jelasnya.

Untuk itu, panjang kontrak waralaba pun dibuat lebih panjang yaitu 10 tahun dengan total investasi sebesar Rp 700 juta- Rp 1,2 miliar minus gedung. Biaya royalti sebesar 12% dari penerimaan.

"Lokasi tergantung pembeli waralaba, kita tidak pernah menentukan. Yang jelas range market kita kan dari 3 tahun sampai tidak terhingga. Jadi di mana usia-usia itu ada, di mana pun bisa. Kontrak 10 tahun ini supaya franchisee bisa menikmati keuntungan dulu," jelas Monica.

Dengan investasi tersebut, Monica menjelaskan franchisee juga mendapatkan paket pendidikan untuk anak-anak 3-6 tahun. Alasannya, karena pendidikan bahasa ini merupakan paket berkesinambungan. Paket untuk anak-anak ini baru dikembangkan ILP sejak 5 tahun silam.

(nia/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads