RencananyaΒ batubara tersebut akan dipakai untuk menggantikan gas yang biasa digunakan sebagai bahan baku operasional BUMN yang sedang dalam tahap penyehatan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA) tersebut.
"Prinsipnya kita sudah sanggupi," ujar Direktur Utama PTBA, Soekrisno saat diubungi detikFinance di Jakarta, Minggu (20/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Detailnya belum. Mereka mau berapa, kita dapat berapa, harus memberi keuntungan keduanya. Belum bertemu PPA," katanya.
Sebelumnya, Mustafa mengungkapkan kebutuhan sebagian energi KKA akan dipasok oleh PTBA, sebagai rekan sesama BUMN.
"Selama ini kan operasionalnya dari gas. Tapi sampai sekarang menunggu lama tidak ada pasokannya. Jadi kita ganti pakai batubara yang diambil dari Bukit Asam," tutur Mustafa akhir pekan ini.
PPA sendiri, telah lama tidak beroperasi karena kekurangan bahan baku dan energi. Untuk itu, KKA juga sedang menunggu bahan baku lainnya yaitu pulp dan kayu dari pohon pinus.
Pemerintah juga sedang mencari lahan pohon pinus seluas 40.000-50.000 hektar untuk kelangsungan operasional. "Sekarang ini PPA sedang menyiapkan lima opsi lainnya untuk penyelamatan KKA," paparnya waktu itu.
Akuisisi Tambang, Terganjal Satu Pemegang Saham
Rencana PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk mengakusisi 100% dua tambang di wilayah Kalimantan, masih terganjal satu pemegang saham, yang belum mau melepas kepemilikannya.
Namun, manajeman PTBA tetap optimis bahwa pengambilalihan kepemilikan dua Kuasa Pertambangan (KP) ini, bisa didapat pada tahun 2010.
"Masih terus negosiasi. Kita inginkan ambil 100% tapi ada satu pemegang saham yang belum mau lepas. Kita inginnya 100%, kalau satu ga mau yang ga bisa," tegas Soekrisno.
Ia menambahkan, perseroan selalu siap untuk meningkatkan terus kapasitas produksi batubara. Bahkan perseoan telah menyiapkan Rp 4,8 triliun, sebagai dana akuisisi.
(wep/epi)











































