Hal itu disampaikan Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI di Kairo Abdurrahman Mohammad Fachir dalam bincang-bincang dengan detikfinance beberapa waktu lalu. Tahun ini Fachir menggelar peringatan 63 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Mesir dengan semangat merevivalisasi kembali semangat persahabatan Soekarno-Nasser untuk kesejahteraan kedua bangsa.
Menurut Fachir, volume perdagangan RI-Mesir waktu pertama dia datang ditugaskan di Kairo tercatat US$600 juta (2007). Melalui upaya promosi dan temu bisnis, volume tersebut hanya dalam tempo satu tahun melonjak tajam menjadi US$1,1 miliar (2008). Meskipun di 2009 sempat menyusut karena krisis ekonomi global, namun volumenya tetap lebih tinggi dari posisi 2007, yakni US$900 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putera Banjarmasin ini menjelaskan bahwa upaya pihaknya di hadapan pengusaha Mesir dengan memberikan informasi memadai sekaligus jaminan bahwa bisnis mereka dengan Indonesia sangat menguntungkan. "Dan dari sisi kualitas produk Indonesia lebih bagus dari negara-negara lain. Ini yang coba kita yakinkan," ujarnya.
Sebaliknya Fachir juga mendorong para pengusaha Indonesia agar lebih agresif memasuki pasar Mesir. "Secara bersamaan kita juga harus mengetahui nature dari pasar di sini. Misalnya saja masih berlaku cash and carry, belum semuanya menggunakan cara-cara moderen," terang Fachir.
Dikatakan, bahwa tak kalah penting untuk diketahui adalah Mesir sebenarnya secara tradisional negara impor. Selain itu Mesir juga banyak memperoleh pemasukan dari Terusan Suez, remittance, dan pariwisata. "Sementara kebutuhan Mesir juga banyak. Jadi kita punya peluang besar untuk menyuplai ke sini," tandas Fachir.
Lebih lanjut Fachir mengatakan bahwa produk Usaha Kecil Menengah (UKM) mempunyai potensi pasar sangat besar di Negeri Piramida tersebut. Produk UKM Indonesia yang sudah masuk paling banyak antara lain furnitur, handicraft, rotan, kayu, suvenir, ban, stationary dan sabun.
Bahkan stationary dan sabun kemajuannnya sangat pesat dalam 5 bulan terakhir. "Itu tidak hanya merambah di ibukota Kairo, tapi juga kota-kota lain termasuk Alexandria. Saya sudah meninjau gudang importir di Alxeandria," ujar Fachir.
Produk Indonesia lainnya yang sudah masuk tapi dalam bentuk investasi adalah pangan, yakni mi instan. Menurut Fachir, sebelumnya mi instan Indonesia masuk ke Mesir melalui impor dari Arab Saudi. Karena permintaan pasar Mesir ternyata sangat besar, akhirnya diputuskan untuk membangun pabriknya di Mesir.
Melihat potensi sedemikian besar, ada ambisi Fachir agar para pengusaha Indonesia melalui Mesir dapat masuk ke pasar Afrika, dengan menjadikan Mesir sebagai pintu gerbang. Apalagi Mesir dan beberapa negara penting Afrika telah membentuk pasar bersama Common Market for Eastern and Southern Africa (Comesa).
"Prospeknya sangat bagus. Untuk diketahui dalam 2 tahun terakhir (2008-2009) Mesir pada trade expo di Jakarta menjadi the biggest non-traditional market untuk produk-produk Indonesia," tegas Fachir.
Di 2008, hanya dalam waktu 4 hari tercapai transaksi US$28,5 juta, tercatat ada 32 perusahaan Mesir berpartisipasi dalam trade expo. Karena pengaruh krisis, transaksi di 2009 agak menurun menjadi US$25,4 juta, namun jumlah partisipan meningkat menjadi 41 perusahaan.
"Pada waktu saya datang baru 17 jenis komoditi, sekarang sudah 41 jenis komoditi. Artinya ada kemajuan sangat berarti, asal kita bisa menunjukkan sebagai mitra terpercaya. Karena itu selama mereka di Indonesia kita dampingi dalam artian mencarikan mitra yang menurut mereka tepat dan kita fasilitasi dengan penerjemah," papar diplomat berkumis ala Charles Bronson ini.
Sejauh ini, menurut Fachir, kendala untuk masuk Mesir adalah memulai, lebih pada faktor psikologis. Selain itu ada satu hal yang memang sedang diupayakan supaya birokrasi Mesir bisa dikurangi, terutama soal legalisasi.
Masalah legalisasi ini sudah dibahas saat kunjungan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Mesir Rachid Mohamed Rachid ke Jakarta pada Januari 2010 lalu dan dia menjanjikan akan mencarikan solusi.
"Karena soal legalisasi ini bukan cuma soal biaya, tetapi juga waktu prosesnya cukup lama. Kita mencoba meyakinkan Mesir bahwa dengan mengurangi hambatan-hambatan birokrasi bisa menguntungkan mereka sendiri," demikian Fachir. (es/es)











































