Kementerian Pertanian diminta untuk menghentikan impor daging beku berkualitas rendah dan jeroan beku. Impor daging dan jerohan beku tersebut kini sudah 'merembes' ke pasar-pasar tradisional sehingga mengganggu produksi daging segar lokal.
Permintaan itu disampaikan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO) dalam suratnya kepada Menteri Pertanian tertanggal 21 Juni 2010 dan ditandatangani Ahmad Mukhlas Arofat selaku Koordinator Dewan APFINDO.
Dalam surat tersebut, APFINDO menyatakan kebutuhan daging sapi semakin hari makin meningkat seiring bertambahnya populasi dan meningkatnya kesejahteraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, jika hal itu terus berlanjut, maka dikhawatirkan bisa mengancam keberhasilan program swasembada daging sapi yang sudah dicanangkan pemerintah.
Selain itu, lanjut dia, telah terjadi distorsi di pasar daging yang disebabkan oleh maraknya daging dan jeroan sapi impor beku yang tadinya hanya memasok industri dan restoran, mulai beredar di pasar-pasar tradisional yang menjadi ujung tombak pemasaran daging segar.
"Hal ini membuat seretnya permintaan dan jatuhnya harga daging segar eks sapi peternakan rakat dan eks feedlot yang menjadi pemasok daging sapi segar selama ini," imbuh Ahmad.
Untuk itu, APFINDO meminta agar pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk menghentikan impor daging beku berkualitas rendah dan jeroan beku.
"Impor jeroan beku juga memiliki masalah jaminan kehalalan yang menjadi syarat mutlak untuk konsumen muslim di negeri ini," pungkas Ahmad.
Berdasarkan data dari Ditjen Peternakan Kementerian Pertanian, total pasokan daging sapi nasional mencapai 393,61 ribu ton pada tahun 2009. Angka itu terdiri dari peternakan dalam negeri sebanyak 323,61 ribu ton, daging beku impor 59,4 ribu ton dan jerohan beku impor 10,6 ribu ton.
Untuk tingkat konsumsi daging sapi per kapita per tahun di Indonesia masih sangat rendah yakni sekitar 1,7 kg. (qom/dnl)











































