"Kita yang belanja listriknya besar, ya bayarnya harus lebih murah. Di negara lain kan seperti itu, lho di sini kan enggak," kata Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (23/6/2010).
Ia mengatakan, dampak kenaikan TDL sebanyak 10% di bulan depan akan sangat terasa oleh industri dalam negeri. Pasalnya, listrik mengambil porsi sebanyak 20% dari total biaya produksi rata-rata industri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hariyadi, selama ini banyak konsumen listrik rumah tangga yang membayar listrik dengan murah dam disubsidi pemerintah padahal sebetulnya masuk dalam kategori pelanggan yang mampu membayar lebih tinggi.
"Misalnya listrik cuma bayar Rp 50.000 per bulan tapi beli pulsa bisa lebih dari Rp 70.000. Kan enggak fair, yang digebukin terus itu kan industri. Suruh bayar lebih mahal," tambahnya.
Mengenai hal ini, pihaknya sudah melakukan beberapa pertemuan dengan Kementerian Energi Sumber daya dan Mineral (ESDM). Pertemuan dilakukan seiring dengan rencana penghapusan tarif multiguna dayamax dan tarif business to business bagi industri.
"Nah, ini akan kita lihat jatuhnya jadi berapa. Formulanya masih belum kita dapat," ujarnya.
(ang/dnl)










































