Pemprov Sumut Ingin Kuasai 58,9% Saham Inalum

Pemprov Sumut Ingin Kuasai 58,9% Saham Inalum

- detikFinance
Rabu, 23 Jun 2010 15:01 WIB
Jakarta - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) berminat mengambil alih 58,9% saham PT Indonesia Aluminium (Inalum) yang dikuasai perusahaan asal Jepang, Nippon Asahan Aluminium (NAA).

"10 Pemerintah Kabupaten/kota sekawan danau toba telah menyepakati untuk menguasai 58,9% saham Nippon Asahan Aluminium (NNA)," kata  Perwakilan Pemprov Sumut,Djailil Azwar, dalam diskusi perpanjangan kontrak Jepang di Inalum di Gedung GBHN DPR RI, Jakarta, Rabu (23/6/2010).

Bahkan Pemprov Sumut telah menerbitkan keputusan Gubernur tentang tim koordinasi dan evaluasi PT Inalum Indonesia yang diketuai Sekdaprov Sumut beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemda Sumut bersama 10 kabupaten telah menandatangani kontrak kerjasama pengelolaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pabrik peleburan aluminium (smelting plant)," paparnya.

Sementara itu, Pengamat Indonesia Resources Studies (Iress), Marwan Batubara meminta pemerintah untuk tidak  memperpanjang kontrak operasi Inalum oleh Nippon Asahan Alluminium (NAA) yang mewakili pemerintah Jepang.

Menurut dia, pemerintah harus mengambil alih 58,9% saham yang dimiliki perusahaan asal Jepang, Nippon Asahan Alumunium (NAA) sehingga 100% saham Inalum  dikuasai oleh negara melalui konsorsium nasional yang terdiri dari pemerintah pusat, BUMN dan BUMD milik 10 pemda setempat.

Ia merekomendasikan agar komposisi pemegang saham Inalum ke depan adalah pemerintah pusat 80%, BUMN 10% dan BUMD 10%. Khusus untuk BUMN, pemegang sahamnya dapat berasal Antam dan Krakatau Steel.

Sedangkan untuk BUMD, pemegang sahamnya berasal dari 10 pemda yang telah menandatangani nota kesepahaman pada 8 Juni 2010 lalu.

"Kami meminta agar pemerintah pusat melalui Presiden SBY segera menerbitkan PP tentang kerjasama dan konsorsium baru Inalum ini, sekaligus membentuk tim lintas departemen untuk menindaklanjuti pelaksanaan PP tersebut," paparnya.

Terkait kebutuhan investasi untuk mengakuisisi saham tersebut, pemerintah perlu segera menghitung nilai buku Inalum secara obyektif dan transparan. perhitungan awal  nilai buku Inalum secara obyektif dan transparan.

Perhitungan awal menunjukkan bahwa nilai buku Inalum pada tahun 2013 diproyeksikan mencapai US$ 1,27 miliar yang terdiri dari unsur-unsur PLTA US$ 268 juta, smelter US$
 143 juta, inventori US$ 148 juta dan aset-aset lainnya US$ 65 juta.

Menurut Marwan, besarnya dana yang dibutuhkan untuk menguasai saham NAA adalah 58,9%x US$ 1,27 miliar yaitu US$ 762 juta.

Pada tahun 2013, diperkiakan Inalum akan memiliki uang kas sekitar US$ 628 juta. Dengan demikian, dana yang dibutuhkan Inalum sebesar US$ 134 juta.

"Jika untuk mengembangkan Inalum dibutuhkan tambahan dana uS$ 116 juta, maka total dana yang dibutuhkan konsorsium adalah US$ 250 juta, yang ditanggung masing-masing oleh Pempus US$ 200 juta, BUMN US$ 25 juta dan BUMD US$ 25 juta,"ungkapnya.


(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads