"Sementara pada tahun lalu, bioethanol kami hanya memasok 170.000 KL dan biodiesel 350.000 KL ke Pertamina," ujar Sekretaris Jenderal Aprobi Paulus Tjakrawan di Hotel Grand Melia, Jakarta, Rabu (23/6/2010).
Paulus berharap agar volume alokasi BBN dan subsidi untuk BBN pada tahun depan akan ditingkatkan. Pada tahun ini, volume bahan bakar nabati (BBN) bersubsidi dalam APBN-P 2010 sebesar 777.075 kilo liter, terdiri dari bioethanol 214.541 kilo liter dan biodiesel 562.534 kilo liter. Dengan besaran subsidi sebesar Rp 2.000 per liter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengawasan untuk penggunaan biodiesel akan mulai pada Juli 2010 sedangkan untuk penggunaan bioethanol, pemerintah baru akan melakukan pengawasan pada tahun 2011," ujar Saryono.
Menurut Suryono, mandatori BBN sudah mulai berlaku sejak 2008. Namun, ketegasan untuk melakukan pengawasan penggunaan BBN masih belum berjalan dengan baik. Banyak faktor yang melatarbelakangi alasan BBN masih belum berjalan karena minimnya pasokan bahan baku dan infrastruktur.
"Ethanol masih sulit karena suplainya masih sulit. Misalnya, Jakarta membutuhkan 3.000 KL per bulan. Namun belum bisa ada yang menyuplai sebesar itu," jelas Saryono.
Saryono menambahkan, pemerintah juga akan menambah jumlah subsidi BBN. Tahun lalu jumlah subsidi BBN ditetapkan Rp 1.000 per liter, maka tahun ini jumlah subsidi BBN mencapai Rp 2.000 perliter. Dengan naiknya subsidi BBN ini, pemerintah berharap pasokan bahan baku BBN akan tercukupi.
"Tahun depan, sedang kita perjuangkan untuk subsidi sebesar Rp 2.500, mudah-mudahan sudah final," ungkap Saryono.
(epi/dnl)











































